Kamis, 29 November 2018

PENGALAMAN PROSES PERSALINAN KALA II

Awalnya Normal, endingnya C-Section

          Pengalaman melahirkan merupakan pengalaman yang tidak semua wanita bisa alami. Beruntunglah jika kita wanita yang pernah merasakan kehamilan hingga melahirkan. Pengalaman tersebut adalah hadiah yang sekaligus menjadi amanah yang dititipkan Allah. Melahirkan adalah proses yang ibarat berjuang agar kedua kaki tetap berpijak ke dunia. Karena proses tersebut semacam pertaruhan antara hidup dan mati. Satu kaki berada di dunia dan satu kaki lagi di ujung kematian. Ajaibnya, wanita bisa melalui proses menegangkan itu dengan happy ending, tetapi ada pula yang harus menunda happy endingnya itu dengan kesakitan sementara, bahkan adapula yang berujung “sad ending”. Lagi-lagi, bersyukurlah kita jika melewatinya dengan akhir yang dipenuhi senyuman.

Seiring perkembangan teknologi, proses melahirkan semakin ke sini semakin mudah. Teknologi ikut andil dalam memudahkan proses melahirkan. Proses persalinan umumnya secara normal, atau bayi lahir melalui vagina tanpa menggunakan alat bantu serta tidak melukai ibu maupun bayi. Ada pula persalinan yang dibantu alat dan vakum, persalinan dengan operasi caesar, bahkan persalinan dalam air. Semua jenis persalinan yang dijalani pasti memiliki efek samping yang berbeda-beda. Jadi, kita tidak bisa menganggap bahwa ibu yang telah melahirkan secara Caesar lebih santai dibandingkan normal.

Kali ini aku akan menyentil membahas tentang pengalaman melahirkan secara normal yang HARUS diakhiri dengan tindakan C-Section.


BERCAK DARAH
20 Januari 2018 lalu akhirnya bayi yang ada dalam perutku keluar. Tetapi, sebelum itu, ada drama yang sangat panjang. Dua hari sebelumnya (18 Januari 2018), saat bangun tidur kutemui flek darah dari vagi**ku. Karena keseringan berseluncur di dunia maya untuk mencari info-info kehamilan, aku tidak panik melihat bercak tersebut. Aku melakukan rutinitas seperti biasa. Pada siang harinya, aku merasa punggung rasanya encok dan perih. Aku mulai menerka lagi bahwa kontraksi  yang sering diistilahkan gelombang cinta oleh para blogger dan vlogger di konten mereka itu, mulai aku rasakan. Meskipun kontraksi tersebut datangnya masih berinterval jauh. Kira-kira setiap sepuluh menitan.
Aku menghantam revisian tesisku untuk segera terselesaikan, karena dua hari lagi ujian akhir menantiku (meskipun aku tah bahwa ujian tersebut bakalan diundur karena bertepatan dengan hari bersalinku). Sore harinya, aku tetap melakukan aktivitas seperti biasa, bahkan kuputuskan untuk ke warnet untuk nge-print tesisku. Di warnet, rasa sakit pada pinggul , pinggang, hingga ke paha itu semakin menjadi-jadi. Akhirnya, kuputuskan untuk check up ke RSIA yang telah kurencanakan untuk persalinanku nanti. Setelah dicek, pembukaan ternyata belum ada.

PEMBUKAAN 1 ke 3 = 22 jam
Sesuai saran dokter , aku kembali ke RS pukul 23.00. Pembukaan dimulai di sini. Pembukaan satu bukan berarti aku harus stay di rumah sakit sambil menunggu kamar yangready. Kami disarankan pulang dan kembali keesokan harinya. Sejak kembali ke rumah hingga pagi hari (19 Januari 2018), kesakitan itu semakin menjadi-jadi. Aku gelisah, kegerahan, sakit pinggul hingga paha membuat aku tidak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang.
“Pembukaan 2” pernyataan perawat itu membinarkan hatiku akan segera bertemu dengan sosok yang selama ini menendang-nendang perutku. Pembukaan distumulasi dengan mondar-mandir di selasar rumah sakit. Suami dan orang tua bergantian menemaniku dan memberikan sugesti positif. Aku masih menikmati makan di cafe RS dengan sesekali menahan nyeri. Sekitar tiga jam berikutnya, dokter memeriksa pembukaan, pembukaan masih tetap di 3 tetapi kami telah diarahkan untuk masuk ke ruang bersalin. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai perasaan dan nada. Perasaan cemas, perasaan bahagia, dan perasaan was-was. Suara rintihan, suara teriakan, suara tangisan, suara amarah, suara semangat, dan suara tangis bayi yang begitu ditunggu-tunggu.

17.00 – 21.00 WITA. Pembukaan masih stay di 3. Gelombang cinta lambat laun makin menjadi-jadi. Ada rembesan yang terasa keluar dan menjadikan celanaku lembab. Setelah dipantau oleh bidan, rembesan itu adalah air ketuban. Bidan menyarankan untuk berhenti mondar-mandir, pipis di tolilet, dan tetap berbaring di tempat tidur. Pukul 00.21 Dini hari (20 Januari 2018), bidan mengecek kembali berikut dengan pengecekan denyut jantung janin. Pembukaan tak kunjung meningkat, sedang kontraksi yang kurasakan tidak sesantai sebelumnya.

INDUKSI MENTOSA
Akhirnya, aku ditawarkan untuk diinduksi lewat infus, dalam istilah kedokteran, induksi yang kujalani disebut dengan Induksi Mentosa (metode induksi dengan menggunakan obat-obatan). Nantinya, obat-obatan tersebut akan bekerja di reseptor-reseptor dalam rahim. Ada dua macam obat induksi yang digunakan, yaitu oksitosin dan prostagladin E1. Oksitosin adalah obat berupa cairan dan dimasukkan melalui selang infus. Sedangkan prostagladin E1 adalah obat berupa tablet dan bisa dimasukkan ke vagina dengan alat khusus (intravaginal), atau diminum. Dosis yang digunakan berbeda-beda pada setiap ibu. Aku menggunakan induksi dengan obat induksi oksitosin. Bidan memilih opsi tersebut (dengan izin dokter melalui telepon) karena menurutnya cocok untuk kondisiku saat itu yang tak kunjung mengalami penanjakan bukaan.
          Awalnya aku sangat paranoid dengan kata ‘induksi’ itu. salah satunya karena berbagai pengalaman dan asumsi orang-orang yang mengatakan induksi tersebut lima kali lebih sakit dibandingkan dengan kontraksi alami. Bahkan, ada pula yang berujung kematian. Empat jam berikutnya, bidan kembali memantau pembukaan, alhamdulilah sudah naik ke pembukaan 8. Aku mencoba menenangkan diri, berhenti merintih dengan jeritan yang keras, sesekali bidan memberi sugesti supaya menyimpan tenaga untuk  dipersiapan pada fase meneran. Suami dan orang tua juga full dan tak henti memberikan support dengan tetap berada di sampingku, meskipun kesakitan itu menimbulkan emosi yang bergejolak. Aku merasa tulangku patah seribu, amarahku pecah. Untungnya, suami dan orang tuaku memaklumi itu. Aku mencoba menenangkan diri. Di sini aku sangat bersyukur, dalam kondisi yang begitu menegangkan ini, suami tercinta dan ibu tersayang masih bisa mendampingi. Mereka membantuku berganti posisi, memberi makanan dan minuman, hingga memberi pelukan dan ciuman yang bisa membantu meredakan serangan gelombang cinta.

GELOMBANG CINTA YANG SEMAKIN HEBAT

08.00 WITA. Gelombang cintaku itu menguasai tubuhku. Aku tak henti-hentinya meringis bahkan dengan teriakan. Padahal, berteriak merupakan kesalahan fatal dalam proses bersalin karena dapat mengurangi energi dan tentunya terbuang percuma. Sampai pada fase ini, aku meneran tidak pada waktunya bahkan berlebihan. Menurut bidan, hal ini bisa meningkatkan risiko asfiksia pada bayi dan kesulitan bernapas. Kesulitan pernapasan pun harus kurasakan dan dokter memutuskan untuk menggunakan alat bantu pernapasan. Tibalah saatnya untuk melahirkan. Aku dituntun untuk mengejan oleh dokter. Mengatur, menarik, dan membuang napas berkali-kali. Tiga kali meneran dan kepala bayi masih terlalu jauh bahkan belum terlihat dari vulva. Karena kepala bayi tak kunjung turun dan energiku sudah tidak memungkinkan untuk meneran, dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar. Aku terus menerus meneran hingga suntikan anastesi itu tertancap masuk ke punggungku. Aku merasa lega dan lambat laun badanku mati rasa. Operasi berjalan selama kurang lebih satu setengah jam. Kudengar suara bayi menangis kencang. Dokter memperlihatkan bayiku sebelum dimasukkan ke dalam bayi untuk dibersihkan dan dirawat.

Persalinan yang aku jalani itu termasuk persalinan Kala II atau persalinan fase 2. Persalinan tidak maju dan janin tidak juga lahir sedangkan sang ibu sudah kehabisan tenaga untuk meneran, maka dokter akan melakukan persalinan alat bantu, jika tidak berhasil maka dilakukan tindakan operasi sesar.

Jika diakumulasi, Pembukaan pertama hingga pembukaan tiga memakan waktu 22 jam lamanya. Totally, pembukaan pertama hingga lengkap (Bukaan 10) sekitar 36 jam lamanya.

Selepas operasi sesar, aku merasa nyeri dibekas sayatan operasi. Namun, nyeri dan kesulitan bangun-tidur itu aku rasanya tidak berlangsung lama. Tidak separah yang diasumsikan orang lain. Bahkan dua pekan setelah operasi, aku bisa menuntaskan ujian tutupku dan berhasil menyematkan gelar master di belakang namaku.

Kesimpulan yang bisa dijadikan pelajaran untuk ibu hamil dari pengalamanku ini adalah proses melahirkan yang biasa terjadi selama berjam-jam bahkan berhari-hari hingga pada akhirnya melakukan tindakan operasi disebabkan oleh beberapa faktor. Yaitu sebagai berikut.
Pembukaan yang Lamban
Setiap ibu mengalami pembukaan yang berbeda-beda. Ada yang cepat yang hanya dalam hitungan jam adapula yang berhari-hari. bahkan ada pula yang tidak mengalami pembukaan terlebih dahulu sebelum merasakan kontraksi.

Hormon Persalinan Bermasalah Akibat Emosi yang Labil
Persalinan yang lama membuat ibu mudah kelelahan secara fisik maupun emosional. Ibu yang mudah stress saat persalinan tubuhnya akan kurang memproduksi hormon oksitosin sehingga proses melahirkan pun menjadi lebih lama.

Kondisi dan Posisi Bayi
Posisi sungsang menjadi pemicu terbesar terjadinya persalinan Kala II. Namun, kondisi yang aku alami, posisi bayi tidak sungsang. Posisi bayi stabil dengan kepala berada di bawah tetapi berat badan bayi yang terlalu besar dibandingkan bentuk panggul ibu yang tidak memungkinkan,  maka persalinan pun terhambat.

Bentuk Panggul Ibu
Bentuk panggulku termasuk panggul android, yaitu rongga panggul berukuran kecil, berbentuk menyerupai simbol hati, dan lengkungan pubik yang sempit. Akibatnya, membuat persalinan normal menjadi sulit dan lama.

Jadi, setiap ibu yang akhirnya harus melahirkan dengan bantuan operasi sesar tidak melulu karena merasa tidak memiliki nyali untuk melahirkan normal. Ada kondisi tertentu yang menuntut hal tersebut terjadi. Andai saja aku berpikiran untuk takut melahirkan normal, bisa saja aku meminta dokter untuk melakukan tindakan operasi di awal pembukaan. Aku beruntung sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melahirkan secara normal meskipun pada akhirnya tindak operasi Caesar-lah yang terbaik untuk keselamatan kita berdua.


Sharing Is Caring. Semoga Bermanfaat :)

Senin, 23 Desember 2013

Untuk wanitaku, Violet !

Lamat-lamat, telisiklah sebuah peristiwa, wanita. apa kalian pernah merasa tersakiti, atau bahkan memang tersakiti? sakit karena apa? fisik? batin? apa yang kalian lakukan, wanita. tertawa, teriak, histeris, menulis, menggambar, membaca, atau berusaha menusukkan tambahan luka dari kesakithatianmu di nadi pergelangan tangan, wanita ?

Lamat-lamat, galilah sedikit saja pengalamanmu, wanita. apa kalian pernah merasa dibohongi, didustakan, dikibuli, dipermainkan, atau dikecewakan? apa yang kalian hendak lakukan, wanita ? menangis, tertawa, menggila, meraung-raung, atau membiarkan tali mencekik leher dan mematikanmu agar kau tak merasakan sakit di dadamu?

----------

Jatuhkanlah air matamu, sebab tiap bulir yang kau seka adalah bata yang akan tersusun untuk meniti kebahagiaan sejatimu. Ketika cinta yang  telah kau gelantungkan di tangkai citamu menjelma belati yang telah menghunus hatimu, maka belailah ia dengan keanggunanmu. Mata seorang wanita adalah permata. melingkar bak dua buah cincin bening yang mengelilingi sebuah permata hitam pekat yang jernih di tengahnya. Tapi, apakah dengan kelebihan itu, kita mampu melihat segalanya yang kita inginkan? TIDAK, sayang.
Kita tak mampu memandang di mana matahari menyandar. bahkan kita tidak mampu meniliknya apakah ia benar-benar menyandar atau ia malah menyinari bagian yang lain atau dunia yang lain, dunia yang menurutnya lebih indah untuk disinari. seakan-akan bagian itu akan tampak cerah dan mengagumkan jika disiram oleh pancaran kemilaunya.
Pernahkah kau mendengar sepatah ikrar yang dengan merdunya membisikmu, membiarkan pikiranmu membumbung jauh dan kau hilang kesadaran? sebab ikrar itu begitu mengangkatmu dan membahagiakanmu? Lalu kini, ketika sebuah goresan sampai pada akal sehatmu dan mengatakan bahwa ikrar itu teringkar, apa yang hendak kauucapkan, wanita? menangis atau kau memilih turun dari pesawat yang telah melambungkanmu jauh ke angkasa? dan kau kini menyadari bahwa kau telah diterbangkan dengan pesawat kertas?
Resapilah turunnya air matamu. Sebab tiap kedipan untuk memeras butir bening yang meluncur di retina akan menerbangkanmu ke singgasana pilihanmu. kita hanya memiliki dua mata yang istimewa. meskipun tak mampu menatap matahari yang telah kita agungkan dengan sempurna, sebab penglihatan kita berada pada lingkar pandang yang terbatas.
Wanita, jangan redup. tusuklah mata matahari yang telah kau percayakan mengeringkan air matamu itu dengan keanggunan dan keeleganan sinarmu yang lembut. 
Teruskanlah deraianmu. Mataku akan terus mendengar celotehan air matamu yang mengalir seperti aliran sungai yang menderas.


Selasa, 03 September 2013

LANGIT BONTOTIRO



Pertemuan selalu bersanding dengan perpisahan. Namun bukan berarti waktu akan menerkam kenangan indah yang telah kami jamah. Kurang lebih dua bulan kami mengabdi di sebuah tempat yang sama sekali tidak pernah disangka-sangka, satu tempat dengan seribu kenangan, satu tempat yang telah mewarnai perjalanan hidup kami. 

Satu malam yang selalu kutolak kehadirannya. Sebelum senja menjajakan kecantikannya, aku mulai menulis sebuah deretan resahku di atas sebuah kertas yang akan kubacakan di malam ramah tamah yang betul-betul memuakkan untukku, yah sebab malam itu tak ingin kusentuh. perpisahan betul-betul menjijikkan untukku. Bait demi bait menetes lewat ujung penaku, bak air mataku yang meleleh dengan

segenap enggan. 
Senja akhirnya turun dengan tegas. Bara hitam kini merajai langit. Ombak Samboang mengamuk-amuk, saling mengejar tak tentu. Angin mendesah mengibas-ibas sukmaku, mengusap pelupuk mataku yang sengaja kutahan agar tak jatuh butiran-butiran dukaku. Kulihat canda itu, canda teman-teman seperjuanganku yang asyik mengabadikan kisahnya lewat sebuah lensa. Kenangan-kenangan adik-adik kecil yang selalu meramaikan rumah tempatku bernaung selama masa pengabdian, teringat wajah ayahanda yang telah kuanggap ayahku. Perpisahan benar-benar menyakitkan.
Angin makin memperlihatkan kegarangannya. Acara malam perpisahan segera dimulai. Salah satu teman seperjuangan telah membuka acara yang kuanggap acara duka itu. Serangkaian acara berjalan lancar, dan tepat ketika pepuisiku akan terbang menegaskan bahwa malam ini adalah malam terakhir kami, aku benar-benar tak kuasa mendengungkan puisiku itu, kuserahkan kertas yang berisi luapan hatiku itu pada teman seperjuanganku. Dan akhirnya, "Langit Bontotiro" mengudara di terbangkan angin.
 
Juli lalu...
Resah menggeliat menyusup pikiran.
Detak detik jam berdenting berlari kencang
Membawaku dari zona nyaman yang memanjakan.

Juli lalu...
Malam pertama di bawah langit Bontotiro
Tetes menetes butiran bening menjatuh dari retina
Merindukan mata syahdu seorang ibu
Merindukan pelukan hangat sang ayah
Tawa canda adik kakak tercinta...

Malam pertama di bawah langit Bontotiro
Bak berada dalam kepungan keterasingan
Tangisku kini menjelma menjadi gigilan rindu yang tak bertuan
Pada yang terkasih, pada yang tersayang.
Dan kini jarak menjadi pemeran paling antagonis dalam alur kisahku.

Dalam hiruk canda kawan baruku
aku tetap meyudut menyepi.
Namun
Detik berganti menit,
Hari berganti hari,
Bulan berganti bulan,
Dan pada sang waktu yang tak pernah bisa diajak kompromi
Sedihku  tenggelam dalam canda tawa
Gelak tawa dari sudut-sudut keceriaan kawan seperjuanganku.
Melarutkan tangis menjadi sebuah lelucon tanpa akhir

Di bawah langit bontotiro.
Ketika sedihku melegam,
Dan menerbitkan ribuan sunggingan di sudut-sudut  bibir teman seperjuanganku mengabdi di tempat indah ini.
Melebur dalam balutan sambut kasih dari insan-insan penghirup udara di Bontotiro ini.

Sepoi angin samboang yang begitu mesra,
Aliran Hila-hila yang menenangkan
Riak percikan air Limbua yang menyejukkan...
Begitu hebat mematikan egoku untuk beranjak dari tempat ini.


Malam ini,
Tampak bulan yang tinggal setengah
Dengan kegamangan angin meniup-niupkan energinya
Agar kita tetap di sini
Tetap menyatu bersama insan-insan Bontotiro

Pekat malam seperti pekatnya hati kami
Yang bimbang melangkah pergi dari keindahan ini
Melebur dalam cekikikan yang tiada henti.
Menyusuri keindahan di setiap sudut tempat indah ini

Hingga, pada waktu yang tak pernah bisa diajak kompromi
Ku pasrahkan kakiku melangkah
Kembali pada pelukan ayah ibuku
Meninggalkan jejak kenangan yang  kuukir sejak Juli lalu

Langit Bontotiro
Yang indah dengan ribuan kilau keistimewaan
Biarkan kami menghirup udara malammu di malam-malam lain
Sebab kami akan menanggung rindu
Saat kaki telah menjelma jejak.


Rabu, 01 Mei 2013

Sebab Hati...

Tegakkan aku. tetap dalam pertahanan.
Jika harapan-harapanku telah terhunus,
Pabila puing-puing senyumku kembali terberai,
Maka lanjutkan aku dalam tetapak
langkah menuju kebangkitan.

Cinta adalah rasa yang tak terpungkiri
Jiwamu adalah cintaku
Aku mencintaimu di keheningan
Sebab kata dan tatarannya enggan bersua menyerukan namamu.

Menulismu.
Cara praktis membaringkan rindu.
Menerjemahkan tiap-tiap fonem kisah yang tersketsa.


Dalam rapuh,
Aku menyimpan keluhku,
Bak puing-puing harapan menyatukannya dalam wadah keutuhan.

Menjadikannya sempurna
Sebab hati memerah tegar
Tidak dipatahkan dan diobati
SEBAB HATI TAK PERNAH SAKIT
terpelihara dalam diam,
dan Bukan peratapan untuk jiwa-jiwa pengeruk nestapaku.

Sperti serpihan sampah
Terhempas menuju arah angin yang dikehendaki penciptanya
Mungkin menujumu
Mengarak hatiku yang kian sempurna

Jika dalam kebungkaman aku mencintaimu,
dalam diam pula aku menikmati samsara.
Sebab rangkaian kata hanya terbentuk hingga di rongga dada.

Kehadiranmu bukan untuk dikeluhkan
SEBAB PUTIH HATI TELAH SAMPAI KE PERADUANNYA.
Membersitkan sebuah kata:
"Kau lebih dari sempurnanya hatiku".

Jika aku sumber keluh
Jika aku buah pahit
Jika aku tak mampu melebarkan kepak senyummu,
Maka tempatkan aku dalam alur masa lalumu.
Sayang, genggam kesejukanmu,
SEBAB KITA SEJATINYA.... 
terlahir bahagia

Sabtu, 06 April 2013

Intermeso dalam seteguk kopi


Jika ada yang mengatakan “bermimpi itu gratis, maka bermimpilah setinggi-tingginya. Menurutku mimpi itu begitu mahal harganya. Mimpi yang yang kurangkai selalu harus kutebus agar ia tak sekadar mimpi belaka, tapi harus diperjuangkan untuk menjadikannya nyata. “Berani bermimpi berani me’nyata’kannya jua.”
Kemarin, sepupu jauhku baru saja kembali dari Toraja. Ia membawakan ole-ole sebuah gelang unik khas Toraja dan sebungkus kopi toraja. Katanya, kopi itu sangat nikmat. “Tambahkan tiga sendok gula, kau akan merasakan kenikmatan yang Ruarrrrr biasa” serunya seperti SPG-SPG yang menjajakan dagangannya. Aku hanya mengangguk pelan seakan tertarik dengan promosinya, padahal aku kurang tertarik dengan minuman hitam pekat itu. Jangankan mencobanya, membuat secangkir kopi pun aku tidak sudi.

...
 
Saat senja singkat nan cantik telah mengurung diri di peraduannya, ayah menyuruhku membuatkan segelas kopi, namun kutawarkan ia mencicipi kopi toraja yang diberikan oleh sepupu jauhku itu. Ayah mengangguk pelan, kuikuti saran sepupuku dengan menambahkan tiga sendok gula. Aku pun mengantarkan kopi itu ke teras rumah, tampak ayah sedang larut dengan berita yang sedang dibacanya. Kuamati ayahku lekat-lekat, menunggunya hingga ia meneguk kopi itu. tegukan pertama, biasa saja. Tegukan kedua, biasa saja, hingga pada tegukan terakhir, tak kudapati raut wajah ayah yang merasakan kenikmatan berbeda dari kopi toraja ini.
“Bagaimana rasanya, Yah?”, tanyaku agresif.
“Biasa saja, kurang manis !” Jawab Ayah dengan cueknya.

Aku kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah yang setengah heran. Aku termenung di teras belakang rumah yang terhubung dengan dapur. Memang kelihatan kikuk untuk membuat segelas kopi saja. Dari situ aku mulai gusar pada diriku sendiri. Membuat segelas kopi yang kuanggap Ruarr biasaaa saja, masih dinilai yaaa... biasa-biasa.



 Seperti biasa, di mana dan kapanpun, bayangan seorang lelaki yang kini tak lagi menjadi kekasihku, selalu saja nongkrong di pikiranku dengan matanya yang tidak pernah bisa kutatap dengan sempurna. Aku lalu mencoba membuat kopi toraja tanpa melarutkan tiga sendok gula. Kularutkan tiga sendok makan pada cangkir berukuran sedang dengan air panas. Kuaduk merata, dengan sedikit bimbang aku mencoba meneguk kopi itu. Dan rasanya, sangat amat tidak menarik. Kuulangi hal gila itu beberapa kali dalam seminggu sembari mengenang seorang lelaki humoris itu, dengan harapan wajah lelaki itu sepahit kopi  agar aku tidak tertarik lagi padanya.

Sebulan kujadikan hal itu rutinitas wajibku di tiap malamnya, namun aku merasa statis. Tak ada yang berbeda. Argumenku yang mengatakan bahwa “kerikil akan tetap menjadi kerikil meski ia berada di padang pasir sekalipun harus ku patahkan.” Lalu kujadikan ia mimpi, mimpi menjadikan lelaki yang kini tak lagi menjadi kekasihku itu menjadi PAHIT. 

Berbulan-bulan rutinitas itu tak pernah luput dari lupa, namun tak ada yang berbeda. Yang ada, malah mataku kini sudah seperti mata panda akibat begadang yang tak terencanakan, begadang akibat pengaruh kopi yang kuteguk di tiap malamnya. Aku kembali merenung di teras belakang rumah dengan mengibas-ibas nyamuk dengan sebuah baki. Aku menengadah ke bulan yang tinggal setengah, bulan itu seakan berkata “Bagaimanapun pahitnya kopi yang kau teguk, jika terbiasa… kau akan merasakan kenikmatan tersendiri”. 

        Hmmm, sepertinya bulan itu memang benar, tanpa kusadari aku telah menikmati kopi itu tanpa meringis kepahitan. Padahal kopi itu kopi yang  biasa saja, bukan kopi toraja, bukan pula kopi dengan larutan gula tiga sendok makan.

      Lantas bagaimana dengan lelaki yang kini tak lagi menjadi kekasihku itu? Kuamati lekat-lekat pusaran kopi yang baru saja kuaduk, di sana kutemukan jawaban “Setiap kisah itu tak ada yang pahit, begitu juga dengan lelaki itu. Ia pernah menjadi gula di kehidupanmu, namun bukan berarti ia kini sepekat kopi. Ia tetap manis, hanya saja itu tak bisa kau nikmati sebab selera manismu telah berbeda. Cobalah peka pada gula yang bertebaran di sekitarmu, mungkin itu lebih manis. Hanya soal kepekaan saja. Putaran di pusaran itu akhirnya berhenti

Akhirnya impiku itu telah terwujud. Tanpa dendam dan kecewa, kutanggalkan gula yang pernah memaniskan kehidupanku. Membiarkan ia menggulai kehidupan-kehidupan yang ia inginkan. Hanya masalah kepekaan, ternyata sangat banyak rasa gula yang kutemui di sekitaranku, terlebih jika dinikmati dengan secangkir kopi.  

Sabrianti.