Selasa, 04 Desember 2018

I'am Working Mom and A Happy Mom

Working mom is strong—Fulltime mom is great


Sekarang adalah zamannya generasi millennial beraksi. Beraksi dalam meniti karier sampai berimprovisasi dalam mendidik anak. Tak jarang, generasi millennial mampu menerobos zaman dengan segudang kreativitasnya yang tak pernah terjamah oleh kaum generasi X. Salah satunya cara memilih jalan hidup, khususnya para wanita yang telah berstatus seorang ‘ibu’.
...
Aku termasuk wanita millennial itu. Aku seorang guru SMA di salah satu sekolah swasta di Makassar. Saat hamil, aku tidak merasa dibebankan dengan hidupku yang terkesan aktif. kehamilan yang hingga memasuki bulan ke-sembilan pun rasanya sah-sah saja menyetir sendirian. Belum lagi, mengajar fulltime di sekolah. Plus, nyambi  menuntaskan ujian akhir di kampus, adalah rutinitas yang memang dikejar waktu. Harus dilakukan. Segalanya harus terselesaikan dengan baik meskipun tetap memprioritaskan kesehatan calon bayi dalam perut. Alhamdulilah hingga terlahir di dunia, si baby sehat meskipun harus masuk dalam inkubator selama tujuh hari dan aku menjalani beberapa injure time yang benar-benar bikin panik (akan aku bahas di konten berikutnya yaa). Serta gelar magister yang kuraih 2 pekan pasca baby bala bala ku lahir di dunia. Dia telah menjadi saksi melihat ibuknya dalam berjuang meraih gelar itu. hehehe.
...
Kedilemaan belum mencuatkan taringnya kala itu. Namun, selepas masa cuti melahirkan tiga bulan itu,wow.... dilema terus menerus mengikut ke mana pun langkah pergi. Bagaimana tidak, aku harus berpisah selama hampir 10 jam dengan si baby untuk kembali ke rutinitasku. aku pun terkena baby blues. Selama kerja, aku kepikiran si baby di rumah. Sempat depresi dan kelelahan.
Dan sampailah pada puncak saat aku harus berpikir matang-matang untuk mengakhiri karierku dan menjadi full time mom atau tetap menjadi wanita karier yang strong dengan perasaan yang sedikit menguras hati dan energi karena cemas meninggalkan anak di rumah.
...
Qadarullah. Sembilan bulan berjalan. Segalanya berjalan seperti biasanya. Aku tetap menjadi seorang guru di sekolah dan menjadi super mom di rumah untuk Baby Muhammad Jinan. ^_^
Bagaimana rasanya jadi Working Mom?
Rasanya? Alhamdulilah. Segala Puji Bagi Allah. Aku yakin, Allah tidak pernah memilih pundak yang salah untuk memberikan amanah kepada umatnya. Menjadi working mom artinya kita harus mampu mengendalikan diri dan berkepribadian ganda. Kapan harus menjadi karyawan yang professional, dan ada waktu pula kita harus menjadi ibu yang super untuk anak kita di rumah. Kelelahan karena bekerja itu SIRNA karena segala kewajiban dituntaskan dengan rasa sabar, syukur, dan ikhlas. Terlebih lagi, wajah anak yang menyambut di teras rumah ketika pulang bekerja, adalah pemulihan penat yang paling mujarab dan menimbulkan kesegaran.
Awalnya, hal ini memang sangat berat. Namun, dukungan dari suami serta orang tua menjadi penguat yang paling berjasa. Fortunately, aku memiliki suami yang tidak neko-neko. Mau menjadi working mom ataupun full time mom, baginya tak jadi masalah. Pak suami memberikan kebebasan memilih tersebut bukan tanpa alasan.
Aku kerja di dunia pendidikan. Mengajar dan mendidik adalah tugasku. Baginya, aku adalah seorang guru yang insya allah tidak hanya mampu mendidik anak orang lain, pastilah tentunya akan lihai pula dalam mendidik anak sendiri. Menurut Pak Suami tercinta, aku seolah learning by doing. Mengajar itu mudah. Tapi, Mendidik itu pekerjaan yang sulit, loh? Mendidik anak orang lain di sekolah semacam sebagai les tambahan untuk menjadi ibu professional, kelak. Dan memang iya, Aku sebagai guru SMA yang notebene peserta didik sudah berada pada tahap adolsentia alias fase remaja-yang-sementara-bertransisi-ke-dewasa. Ini ‘kan jadi peluang besar untukku belajar menghadapi Jinan yang baru menginjak usia 9 bulan sekarang dan akan beranjak dewasa enam belas tahun ke depan ‘kan?
...
Tidak sedikit sang working mom yang paranoid dengan hidup yang dijalaninya saat ini. Justifikasi darifulltime mom tidak jarang pula menyudutkan. Padahal, aku yakin, semua ibu memiliki pertimbangan dalam menentukan statusnya untuk menjadi working mom atau fulltime mom. Sayangnya, orang-orang yang sering menjustifikasi jalan hidup yang kita jalani itu SALAH. Teranglah, orang-orang seperti itu memiliki pola pikir yang acakadut, merasa benar, seolah menasihati tapi jatuhnya malah menyudutkan.
Siapa bilang working mom itu egois dan tidak maksimal dalam mengurus dan mendidik anak? Semua ibu di dunia ini pasti akan melakukan hal terbaik untuk anaknya. 
Siapa bilang full time mom  itu bersantai-santai saja di rumah? Siapa bilang  fulltime mom itu jam tidurnya lebih banyak dari working momFull time mom mengorbankan segala waktunya untuk sang buah hati dan terkadang malah lupa makan seharian, mandi apalagi. Jadi, tidak ada alasan kita menjastifikasi bahwa mereka selonjoran saja di rumah. 
Belum ada penelitian yang bisa membuktikan itu, Geng. ^_
...
Jika status “Ibu” telah disandang oleh seorang wanita, maka 24 jam itu adalah jam kerjanya. Entah dia berstatus working mom atau fulltime mom.
Belum tentu sang fulltime mom memiliki keandalan lebih baik dalam mengurus anak dibandingkan working mom. Belum tentu pula sang working mom tidak lebih care dibanding sang full time mom.

Kalau ditanya pada diriku sendiri. Apakah aku sudah menjadi sang working mom yang professional? Apakah aku sudah berlaku seimbang antara di rumah dan di kantor?
Working Mom
Aku yakin bisa memenuhi indikator profesional itu. Optimis dan berusaha itu WAJIB ^_^. Lagi-lagi, hidupku selalu berpatok pada Learning By Doing. Hidup adalah perjuangan. Berjuang untuk belajar terus-menerus agar menjadi ibu yang baik untuk anakku dan juga anak orang lain di sekolah. Selepas mengajar, aku kembali ke rumah dan berubah wujud menjadi ibu untuk anakku. Kulucuti segala beban dan letih di depan pagar, lalu masuk ke rumah dengan membawa aura bahagia untuk anakku. Tak lantas beristirahat, menemaninya bermain di sore hari, memandikan, menyuapi, hingga menidurkannya tetap aku geluti.
Kalau semua wanita memang ditakdirkan untuk berdiam diri di rumah, lah, siapa yang akan menjadi ibu guru di sekolah? Siapa yang akan menjadi bidan membantu proses lahiran? Siapa yang akan menjual sayur di pasar? Siapa yang akan menjadi pramugari? Siapa yang akan menjadi Mamah Dedeh?
...
 Sedihnya, kecaman dari orang lain yang selalu menganggap working mom itu sebuah kefatalan adalah sebuah hal impulsif.
Katanya, anak jadi kehilangan kasih sayang nantinya. Katanya, Anak jadi tidak terurus. Katanya, ibunya pengen eksis mulu. Katanya, Anak kehilangan sosok ibu. Katanya, ibu harus jadi madrasah pertama anak-anaknya. Pernyataan terakhir itu, jelas aku setuju banget banget. Dan say no, dengan pandangan-pandangan yang selalu berdiri di atas kata “katanya” itu.
Aku telah menjadi saksi bahwa seorang working mom tidak SEFATAL yang dibayangkan. Tak perlu separanoid itu, Geng.
Aku hidup dari keluarga sederhana. Ayahku baru saja pensiun. Ibuku masih berstatus guru di sekolah negeri di Makassar. Artinya, aku hidup dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang berkarier. Karier mereka menuntut untuk tidak terus-terusan di rumah. Jelas, ibu ku adalah working mom, kan? Pertanyaannya, apakah kakak, adik, dan aku kehilangan kasih sayang? Apa kami menjadi nakal sampai harus nge-drugs ? Apa kami jadi pembangkang dan bertabiat buruk? Rasanya, tidak sama sekali.
Kami malah digenangi cinta yang hebat. Kemandirian ditanamkan di diri kami sejak kecil, buka berarti dicuekin begitu saja. Malah, kata “manja” jauh sekali dari kami. Tidak jarang kami diajak ke sekolah. Sementara ibu bekerja, kami duduk manis membaca buku di perpustakaan. Kami mengenal banyak orang dan kami bukan anak anti sosial.
Kakakku seorang laki-laki. Usianya lebih tua dua tahun dariku. Sejak sekolah, dia hobi nge-break dancedan kini dia menjadi aktor teater bahkan menjadi asisten sutradara. Adikku, seorang mahasiswa akademi pariwisata yang suka sekali naik gunung. Watak mereka jauh dari pribadi yang terkesan kekurangan kasih sayang. Mereka malah menjadi pemuda aktif dan positif. Dan aku, tumbuh menjadi seorang wanita yang insya Allah tangguh, seperti ibuku.
...
So, Kita tidak bisa mengukur sepatu orang lain di kaki kita. Aku yakin setiap pilihan hidup yang kini kita dan orang lain jalani adalah hasil istikharah terbaik yang ditetapkan Allah untuk kita. Menghargai keputusan apapun yang dilakukan oleh setiap ibu adalah bentuk empati dan dukungan untuk sama-sama berjuang dalam mendidik tanpa gap apapun. Bisa jadi, sang working mom saat ini, dua tiga tahun bahkan esok hari membanting setir menjadi fulltime mom. Tidak menutup kemungkinan pula, seorang fulltime mom akan esok lusa akan menjadi pejabat penting di sebuah perusahaan. 
                                                  ...
Dari beberapa seminar parenting yang aku datangi, pertanyaan yang berkaitan dengan working mom pun selalu aku gemakan di ruang seminar tersebut. Berikut inisiasi yang bisa diterapkan working mom untuk menjadi seorang ibu yang professional di tengah kesibukan karier dan bisa meningkatkan hubungan yang lebih berkualitas dengan sang buah hati.

1.       Berubah Wujud

Pekerjaan di kantor mungkin membuat kepala kita puyeng dan tidak jarang menimbulkan emosi yang tidak stabil akibat kelelahan. Kita perlu menggarisbawahi bahwa menjadi working mom sudah menjadi keputusan kita. Setelah kembali ke rumah, kita harus berubah wujud. Menanggal segala profesi dan jabatan apapun di kantor. Kita kembali ke rumah dengan meyimpan topeng kita sebagai wanita karier, berdiam diri sejenak untuk berubah wujud. Saat sampai di rumah, kita melangkahkan kaki memasuki rumah sebagai Ibu yang begitu berharga untuk anak kita. Berikan senyum terbaik untuknya, respon segala ujarannya, suapi dengan penuh cinta, serta menjadi teman sepermainannya yang paling asyik.
2.    Mengatur Quality Time

Quality time merupakan waktu ‘yang lain daripada yang lain’. Waktu berkualitas dengan anak tidak melulu harus bepergian keluar rumah seperti ke mall, berbelanja sesuka hati, atau keluar kota. Quality time di sini adalah waktu untuk kita lebih mendekatkan bonding dengan anak tercinta kita. Weekend salah satu waktu yang efisien untuk working mom mengatur quality time.
Berlama-lamaan di tempat tidur, saling berpelukan, atau sambil menyugestikan padanya untuk menjadi anak yang soleh/solehah, anak cerdas, dan doa-doa terbaik untuknya juga merupakanquality time yang simpel khaaan?
Memandikan dan berlama-lamaan bermain air sambil bernyanyi dan selipkan lagi edukasi-edukasi dan doa untuknya juga quality time yang efektif digunakan.
Membacakan buku cerita sebelum tidur juga merupakan opsi yang tidak hanya meningkatkan kedekatan kita pada anak, tetapi juga menstimulus aspek berbahasanya.
Intinya adalah quality time bisa dilakukan di mana dan dalam kegiatan apa pun, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghadirkan jiwa kita pada hati anak. Sehingga ia memahami bahwa ibunya, yaaa tetap ibunya, yang kodratnya mengasuh dia dengan penuh cinta.

3   Meminimalisasi Pemakaian Gawai

Gawai atau dikenal dengan gadget menjadi momok yang sulit dilepaskan dari setiap orang. Tidak terkecuali pada working mom. Lalu lintas komunikasi berjalan dengan satu genggaman saja menjadikan working mom setiap saat harus melongok ke gawai. Pemakaian gawai di rumah dapat menghambat komunikasi dengan anak. Notifikasi di gawai dapat disenyapkan dan diatur berbunyi pada panggilan-panggilan tertentu saja.
Sebenarnya hal ini terlihat mudah, tetapi tak semudah penerapannnya. Aku pun demikian, jika anak sudah tertidur, aku malah bergegas mengambil HP dan mengecek semua chatting­-an di grup W.A dan akhirnya kebablasan untuk berselancar di media sosial lainnya. Akhirnya, anak tertidur dengan pulasnya tanpa belaian dan ciuman kening. Dampaknya, hal tersebut menjadi kebiasaan buruk atau bad habit yang terus-menerus dilakukan tanpa adanya rasa bersalah karena dianggap tidak menimbulkan dampak apapun. Padahal, hal tersebut merupakan kefatalan.

4.   Biarkan anggaran RT sedikit membengkak

Terkadang weekend untuk working mom dimanfaatkan untuk mengurus urusan rumah tangga lainnya, seperti mencuci baju, membersihkan rumah, bahkan memasak. Demi menginvestasikan ilmu kedekatan kita pada anak, tak ada salahnya menggembungkan anggaran rumah tangga pada hal-hal yang tidak kalah urgensinya. Menggunakan jasa ART atau home cleaning, memasukkan baju-baju kotor di Laundry, dan membeli makanan merupakan cara untuk memaksimalkan bonding kita pada buah hati. Pekerjaan yang menumpuk malah biasanya menambah beban kerja sehingga berdampak pada mood kita yang tidak stabil. Oleh karena itu, jika kita tipikalworking mom yang berhemat untuk kepentingan lainnya, hindari menumpuk pekerjaan dan bergegas menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam satu waktu. 

Sesungguhnya, segala inisiasi tersebut masih sebagai proses untuk menjadi 'ibu bekerja yang baik'. Tak ada ibu yang sempurna, kecuali dia yang terus-menerus belajar dan rendah hati untuk berjuang menjadi ideal. Semogabermanfaat.  

Kamis, 29 November 2018

PENGALAMAN PROSES PERSALINAN KALA II

Awalnya Normal, endingnya C-Section

          Pengalaman melahirkan merupakan pengalaman yang tidak semua wanita bisa alami. Beruntunglah jika kita wanita yang pernah merasakan kehamilan hingga melahirkan. Pengalaman tersebut adalah hadiah yang sekaligus menjadi amanah yang dititipkan Allah. Melahirkan adalah proses yang ibarat berjuang agar kedua kaki tetap berpijak ke dunia. Karena proses tersebut semacam pertaruhan antara hidup dan mati. Satu kaki berada di dunia dan satu kaki lagi di ujung kematian. Ajaibnya, wanita bisa melalui proses menegangkan itu dengan happy ending, tetapi ada pula yang harus menunda happy endingnya itu dengan kesakitan sementara, bahkan adapula yang berujung “sad ending”. Lagi-lagi, bersyukurlah kita jika melewatinya dengan akhir yang dipenuhi senyuman.

Seiring perkembangan teknologi, proses melahirkan semakin ke sini semakin mudah. Teknologi ikut andil dalam memudahkan proses melahirkan. Proses persalinan umumnya secara normal, atau bayi lahir melalui vagina tanpa menggunakan alat bantu serta tidak melukai ibu maupun bayi. Ada pula persalinan yang dibantu alat dan vakum, persalinan dengan operasi caesar, bahkan persalinan dalam air. Semua jenis persalinan yang dijalani pasti memiliki efek samping yang berbeda-beda. Jadi, kita tidak bisa menganggap bahwa ibu yang telah melahirkan secara Caesar lebih santai dibandingkan normal.

Kali ini aku akan menyentil membahas tentang pengalaman melahirkan secara normal yang HARUS diakhiri dengan tindakan C-Section.


BERCAK DARAH
20 Januari 2018 lalu akhirnya bayi yang ada dalam perutku keluar. Tetapi, sebelum itu, ada drama yang sangat panjang. Dua hari sebelumnya (18 Januari 2018), saat bangun tidur kutemui flek darah dari vagi**ku. Karena keseringan berseluncur di dunia maya untuk mencari info-info kehamilan, aku tidak panik melihat bercak tersebut. Aku melakukan rutinitas seperti biasa. Pada siang harinya, aku merasa punggung rasanya encok dan perih. Aku mulai menerka lagi bahwa kontraksi  yang sering diistilahkan gelombang cinta oleh para blogger dan vlogger di konten mereka itu, mulai aku rasakan. Meskipun kontraksi tersebut datangnya masih berinterval jauh. Kira-kira setiap sepuluh menitan.
Aku menghantam revisian tesisku untuk segera terselesaikan, karena dua hari lagi ujian akhir menantiku (meskipun aku tah bahwa ujian tersebut bakalan diundur karena bertepatan dengan hari bersalinku). Sore harinya, aku tetap melakukan aktivitas seperti biasa, bahkan kuputuskan untuk ke warnet untuk nge-print tesisku. Di warnet, rasa sakit pada pinggul , pinggang, hingga ke paha itu semakin menjadi-jadi. Akhirnya, kuputuskan untuk check up ke RSIA yang telah kurencanakan untuk persalinanku nanti. Setelah dicek, pembukaan ternyata belum ada.

PEMBUKAAN 1 ke 3 = 22 jam
Sesuai saran dokter , aku kembali ke RS pukul 23.00. Pembukaan dimulai di sini. Pembukaan satu bukan berarti aku harus stay di rumah sakit sambil menunggu kamar yangready. Kami disarankan pulang dan kembali keesokan harinya. Sejak kembali ke rumah hingga pagi hari (19 Januari 2018), kesakitan itu semakin menjadi-jadi. Aku gelisah, kegerahan, sakit pinggul hingga paha membuat aku tidak bisa memejamkan mata hingga pagi menjelang.
“Pembukaan 2” pernyataan perawat itu membinarkan hatiku akan segera bertemu dengan sosok yang selama ini menendang-nendang perutku. Pembukaan distumulasi dengan mondar-mandir di selasar rumah sakit. Suami dan orang tua bergantian menemaniku dan memberikan sugesti positif. Aku masih menikmati makan di cafe RS dengan sesekali menahan nyeri. Sekitar tiga jam berikutnya, dokter memeriksa pembukaan, pembukaan masih tetap di 3 tetapi kami telah diarahkan untuk masuk ke ruang bersalin. Ruangan itu dipenuhi dengan berbagai perasaan dan nada. Perasaan cemas, perasaan bahagia, dan perasaan was-was. Suara rintihan, suara teriakan, suara tangisan, suara amarah, suara semangat, dan suara tangis bayi yang begitu ditunggu-tunggu.

17.00 – 21.00 WITA. Pembukaan masih stay di 3. Gelombang cinta lambat laun makin menjadi-jadi. Ada rembesan yang terasa keluar dan menjadikan celanaku lembab. Setelah dipantau oleh bidan, rembesan itu adalah air ketuban. Bidan menyarankan untuk berhenti mondar-mandir, pipis di tolilet, dan tetap berbaring di tempat tidur. Pukul 00.21 Dini hari (20 Januari 2018), bidan mengecek kembali berikut dengan pengecekan denyut jantung janin. Pembukaan tak kunjung meningkat, sedang kontraksi yang kurasakan tidak sesantai sebelumnya.

INDUKSI MENTOSA
Akhirnya, aku ditawarkan untuk diinduksi lewat infus, dalam istilah kedokteran, induksi yang kujalani disebut dengan Induksi Mentosa (metode induksi dengan menggunakan obat-obatan). Nantinya, obat-obatan tersebut akan bekerja di reseptor-reseptor dalam rahim. Ada dua macam obat induksi yang digunakan, yaitu oksitosin dan prostagladin E1. Oksitosin adalah obat berupa cairan dan dimasukkan melalui selang infus. Sedangkan prostagladin E1 adalah obat berupa tablet dan bisa dimasukkan ke vagina dengan alat khusus (intravaginal), atau diminum. Dosis yang digunakan berbeda-beda pada setiap ibu. Aku menggunakan induksi dengan obat induksi oksitosin. Bidan memilih opsi tersebut (dengan izin dokter melalui telepon) karena menurutnya cocok untuk kondisiku saat itu yang tak kunjung mengalami penanjakan bukaan.
          Awalnya aku sangat paranoid dengan kata ‘induksi’ itu. salah satunya karena berbagai pengalaman dan asumsi orang-orang yang mengatakan induksi tersebut lima kali lebih sakit dibandingkan dengan kontraksi alami. Bahkan, ada pula yang berujung kematian. Empat jam berikutnya, bidan kembali memantau pembukaan, alhamdulilah sudah naik ke pembukaan 8. Aku mencoba menenangkan diri, berhenti merintih dengan jeritan yang keras, sesekali bidan memberi sugesti supaya menyimpan tenaga untuk  dipersiapan pada fase meneran. Suami dan orang tua juga full dan tak henti memberikan support dengan tetap berada di sampingku, meskipun kesakitan itu menimbulkan emosi yang bergejolak. Aku merasa tulangku patah seribu, amarahku pecah. Untungnya, suami dan orang tuaku memaklumi itu. Aku mencoba menenangkan diri. Di sini aku sangat bersyukur, dalam kondisi yang begitu menegangkan ini, suami tercinta dan ibu tersayang masih bisa mendampingi. Mereka membantuku berganti posisi, memberi makanan dan minuman, hingga memberi pelukan dan ciuman yang bisa membantu meredakan serangan gelombang cinta.

GELOMBANG CINTA YANG SEMAKIN HEBAT

08.00 WITA. Gelombang cintaku itu menguasai tubuhku. Aku tak henti-hentinya meringis bahkan dengan teriakan. Padahal, berteriak merupakan kesalahan fatal dalam proses bersalin karena dapat mengurangi energi dan tentunya terbuang percuma. Sampai pada fase ini, aku meneran tidak pada waktunya bahkan berlebihan. Menurut bidan, hal ini bisa meningkatkan risiko asfiksia pada bayi dan kesulitan bernapas. Kesulitan pernapasan pun harus kurasakan dan dokter memutuskan untuk menggunakan alat bantu pernapasan. Tibalah saatnya untuk melahirkan. Aku dituntun untuk mengejan oleh dokter. Mengatur, menarik, dan membuang napas berkali-kali. Tiga kali meneran dan kepala bayi masih terlalu jauh bahkan belum terlihat dari vulva. Karena kepala bayi tak kunjung turun dan energiku sudah tidak memungkinkan untuk meneran, dokter memutuskan untuk melakukan operasi Caesar. Aku terus menerus meneran hingga suntikan anastesi itu tertancap masuk ke punggungku. Aku merasa lega dan lambat laun badanku mati rasa. Operasi berjalan selama kurang lebih satu setengah jam. Kudengar suara bayi menangis kencang. Dokter memperlihatkan bayiku sebelum dimasukkan ke dalam bayi untuk dibersihkan dan dirawat.

Persalinan yang aku jalani itu termasuk persalinan Kala II atau persalinan fase 2. Persalinan tidak maju dan janin tidak juga lahir sedangkan sang ibu sudah kehabisan tenaga untuk meneran, maka dokter akan melakukan persalinan alat bantu, jika tidak berhasil maka dilakukan tindakan operasi sesar.

Jika diakumulasi, Pembukaan pertama hingga pembukaan tiga memakan waktu 22 jam lamanya. Totally, pembukaan pertama hingga lengkap (Bukaan 10) sekitar 36 jam lamanya.

Selepas operasi sesar, aku merasa nyeri dibekas sayatan operasi. Namun, nyeri dan kesulitan bangun-tidur itu aku rasanya tidak berlangsung lama. Tidak separah yang diasumsikan orang lain. Bahkan dua pekan setelah operasi, aku bisa menuntaskan ujian tutupku dan berhasil menyematkan gelar master di belakang namaku.

Kesimpulan yang bisa dijadikan pelajaran untuk ibu hamil dari pengalamanku ini adalah proses melahirkan yang biasa terjadi selama berjam-jam bahkan berhari-hari hingga pada akhirnya melakukan tindakan operasi disebabkan oleh beberapa faktor. Yaitu sebagai berikut.
Pembukaan yang Lamban
Setiap ibu mengalami pembukaan yang berbeda-beda. Ada yang cepat yang hanya dalam hitungan jam adapula yang berhari-hari. bahkan ada pula yang tidak mengalami pembukaan terlebih dahulu sebelum merasakan kontraksi.

Hormon Persalinan Bermasalah Akibat Emosi yang Labil
Persalinan yang lama membuat ibu mudah kelelahan secara fisik maupun emosional. Ibu yang mudah stress saat persalinan tubuhnya akan kurang memproduksi hormon oksitosin sehingga proses melahirkan pun menjadi lebih lama.

Kondisi dan Posisi Bayi
Posisi sungsang menjadi pemicu terbesar terjadinya persalinan Kala II. Namun, kondisi yang aku alami, posisi bayi tidak sungsang. Posisi bayi stabil dengan kepala berada di bawah tetapi berat badan bayi yang terlalu besar dibandingkan bentuk panggul ibu yang tidak memungkinkan,  maka persalinan pun terhambat.

Bentuk Panggul Ibu
Bentuk panggulku termasuk panggul android, yaitu rongga panggul berukuran kecil, berbentuk menyerupai simbol hati, dan lengkungan pubik yang sempit. Akibatnya, membuat persalinan normal menjadi sulit dan lama.

Jadi, setiap ibu yang akhirnya harus melahirkan dengan bantuan operasi sesar tidak melulu karena merasa tidak memiliki nyali untuk melahirkan normal. Ada kondisi tertentu yang menuntut hal tersebut terjadi. Andai saja aku berpikiran untuk takut melahirkan normal, bisa saja aku meminta dokter untuk melakukan tindakan operasi di awal pembukaan. Aku beruntung sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melahirkan secara normal meskipun pada akhirnya tindak operasi Caesar-lah yang terbaik untuk keselamatan kita berdua.


Sharing Is Caring. Semoga Bermanfaat :)

Senin, 23 Desember 2013

Untuk wanitaku, Violet !

Lamat-lamat, telisiklah sebuah peristiwa, wanita. apa kalian pernah merasa tersakiti, atau bahkan memang tersakiti? sakit karena apa? fisik? batin? apa yang kalian lakukan, wanita. tertawa, teriak, histeris, menulis, menggambar, membaca, atau berusaha menusukkan tambahan luka dari kesakithatianmu di nadi pergelangan tangan, wanita ?

Lamat-lamat, galilah sedikit saja pengalamanmu, wanita. apa kalian pernah merasa dibohongi, didustakan, dikibuli, dipermainkan, atau dikecewakan? apa yang kalian hendak lakukan, wanita ? menangis, tertawa, menggila, meraung-raung, atau membiarkan tali mencekik leher dan mematikanmu agar kau tak merasakan sakit di dadamu?

----------

Jatuhkanlah air matamu, sebab tiap bulir yang kau seka adalah bata yang akan tersusun untuk meniti kebahagiaan sejatimu. Ketika cinta yang  telah kau gelantungkan di tangkai citamu menjelma belati yang telah menghunus hatimu, maka belailah ia dengan keanggunanmu. Mata seorang wanita adalah permata. melingkar bak dua buah cincin bening yang mengelilingi sebuah permata hitam pekat yang jernih di tengahnya. Tapi, apakah dengan kelebihan itu, kita mampu melihat segalanya yang kita inginkan? TIDAK, sayang.
Kita tak mampu memandang di mana matahari menyandar. bahkan kita tidak mampu meniliknya apakah ia benar-benar menyandar atau ia malah menyinari bagian yang lain atau dunia yang lain, dunia yang menurutnya lebih indah untuk disinari. seakan-akan bagian itu akan tampak cerah dan mengagumkan jika disiram oleh pancaran kemilaunya.
Pernahkah kau mendengar sepatah ikrar yang dengan merdunya membisikmu, membiarkan pikiranmu membumbung jauh dan kau hilang kesadaran? sebab ikrar itu begitu mengangkatmu dan membahagiakanmu? Lalu kini, ketika sebuah goresan sampai pada akal sehatmu dan mengatakan bahwa ikrar itu teringkar, apa yang hendak kauucapkan, wanita? menangis atau kau memilih turun dari pesawat yang telah melambungkanmu jauh ke angkasa? dan kau kini menyadari bahwa kau telah diterbangkan dengan pesawat kertas?
Resapilah turunnya air matamu. Sebab tiap kedipan untuk memeras butir bening yang meluncur di retina akan menerbangkanmu ke singgasana pilihanmu. kita hanya memiliki dua mata yang istimewa. meskipun tak mampu menatap matahari yang telah kita agungkan dengan sempurna, sebab penglihatan kita berada pada lingkar pandang yang terbatas.
Wanita, jangan redup. tusuklah mata matahari yang telah kau percayakan mengeringkan air matamu itu dengan keanggunan dan keeleganan sinarmu yang lembut. 
Teruskanlah deraianmu. Mataku akan terus mendengar celotehan air matamu yang mengalir seperti aliran sungai yang menderas.


Selasa, 03 September 2013

LANGIT BONTOTIRO



Pertemuan selalu bersanding dengan perpisahan. Namun bukan berarti waktu akan menerkam kenangan indah yang telah kami jamah. Kurang lebih dua bulan kami mengabdi di sebuah tempat yang sama sekali tidak pernah disangka-sangka, satu tempat dengan seribu kenangan, satu tempat yang telah mewarnai perjalanan hidup kami. 

Satu malam yang selalu kutolak kehadirannya. Sebelum senja menjajakan kecantikannya, aku mulai menulis sebuah deretan resahku di atas sebuah kertas yang akan kubacakan di malam ramah tamah yang betul-betul memuakkan untukku, yah sebab malam itu tak ingin kusentuh. perpisahan betul-betul menjijikkan untukku. Bait demi bait menetes lewat ujung penaku, bak air mataku yang meleleh dengan

segenap enggan. 
Senja akhirnya turun dengan tegas. Bara hitam kini merajai langit. Ombak Samboang mengamuk-amuk, saling mengejar tak tentu. Angin mendesah mengibas-ibas sukmaku, mengusap pelupuk mataku yang sengaja kutahan agar tak jatuh butiran-butiran dukaku. Kulihat canda itu, canda teman-teman seperjuanganku yang asyik mengabadikan kisahnya lewat sebuah lensa. Kenangan-kenangan adik-adik kecil yang selalu meramaikan rumah tempatku bernaung selama masa pengabdian, teringat wajah ayahanda yang telah kuanggap ayahku. Perpisahan benar-benar menyakitkan.
Angin makin memperlihatkan kegarangannya. Acara malam perpisahan segera dimulai. Salah satu teman seperjuangan telah membuka acara yang kuanggap acara duka itu. Serangkaian acara berjalan lancar, dan tepat ketika pepuisiku akan terbang menegaskan bahwa malam ini adalah malam terakhir kami, aku benar-benar tak kuasa mendengungkan puisiku itu, kuserahkan kertas yang berisi luapan hatiku itu pada teman seperjuanganku. Dan akhirnya, "Langit Bontotiro" mengudara di terbangkan angin.
 
Juli lalu...
Resah menggeliat menyusup pikiran.
Detak detik jam berdenting berlari kencang
Membawaku dari zona nyaman yang memanjakan.

Juli lalu...
Malam pertama di bawah langit Bontotiro
Tetes menetes butiran bening menjatuh dari retina
Merindukan mata syahdu seorang ibu
Merindukan pelukan hangat sang ayah
Tawa canda adik kakak tercinta...

Malam pertama di bawah langit Bontotiro
Bak berada dalam kepungan keterasingan
Tangisku kini menjelma menjadi gigilan rindu yang tak bertuan
Pada yang terkasih, pada yang tersayang.
Dan kini jarak menjadi pemeran paling antagonis dalam alur kisahku.

Dalam hiruk canda kawan baruku
aku tetap meyudut menyepi.
Namun
Detik berganti menit,
Hari berganti hari,
Bulan berganti bulan,
Dan pada sang waktu yang tak pernah bisa diajak kompromi
Sedihku  tenggelam dalam canda tawa
Gelak tawa dari sudut-sudut keceriaan kawan seperjuanganku.
Melarutkan tangis menjadi sebuah lelucon tanpa akhir

Di bawah langit bontotiro.
Ketika sedihku melegam,
Dan menerbitkan ribuan sunggingan di sudut-sudut  bibir teman seperjuanganku mengabdi di tempat indah ini.
Melebur dalam balutan sambut kasih dari insan-insan penghirup udara di Bontotiro ini.

Sepoi angin samboang yang begitu mesra,
Aliran Hila-hila yang menenangkan
Riak percikan air Limbua yang menyejukkan...
Begitu hebat mematikan egoku untuk beranjak dari tempat ini.


Malam ini,
Tampak bulan yang tinggal setengah
Dengan kegamangan angin meniup-niupkan energinya
Agar kita tetap di sini
Tetap menyatu bersama insan-insan Bontotiro

Pekat malam seperti pekatnya hati kami
Yang bimbang melangkah pergi dari keindahan ini
Melebur dalam cekikikan yang tiada henti.
Menyusuri keindahan di setiap sudut tempat indah ini

Hingga, pada waktu yang tak pernah bisa diajak kompromi
Ku pasrahkan kakiku melangkah
Kembali pada pelukan ayah ibuku
Meninggalkan jejak kenangan yang  kuukir sejak Juli lalu

Langit Bontotiro
Yang indah dengan ribuan kilau keistimewaan
Biarkan kami menghirup udara malammu di malam-malam lain
Sebab kami akan menanggung rindu
Saat kaki telah menjelma jejak.