Minggu, 16 Februari 2020

“TIDAK SEMUA YANG GATAL HARUS DIGARUK”

        Pernah nggak sih kita merasa berada pada kondisi yang terdesak untuk merespon sesuatu? Rasanya sangat penting untuk mengklarifikasi hal-hal yang megganjal di dalam hati dan pikir? Atau darurat rasanya untuk mengemukakan aspirasi mengenai sebuah kejadian atau hal yang sedang marak diisukan?  Pernah nggak merasa berada di titik amarah yang buncah? Lalu merasa lega ketika mengeluarkan sumpah serapah untuk diri sendiri dan objek lain? Pernah nggak melihat sekelompok teman sedang menggibahi sesuatu dan kita merasa rugi tidak ikut nimbrung?
          Pernah nggak sih kita berada pada situasi yang ketika tidak bersuara, tidak vokal, dan tidak berargumen, rasanya dunia itu seolah menghakimi dan kita ibarat kalah dalam peperangan? Atau merasa bahwa jika tidak mengikuti tren yang sedang booming, kita menjadi manusia paling udik di dunia? Pernahkah kita menuntut diri sendiri agar bisa memenuhi dan memuaskan mata, perasaan, dan pengakuan orang lain sesuai standar mereka? Pernah nggak merasa tidak tertahankan melihat rayuan diskon besar-besaran di mall dan sangat amat rugi rasanya jika melewatkan kesempatan itu?
...
Pernah nggak ngalamin jatuh dari sepeda? Dengkul kita memar bahkan luka terseret aspal. Bagian yang luka itu lama kelamaan akan mengecil dan berproses, berubah, dan  terganti menjadi sel-sel kulit yang baru. Tapi dalam proses itu, disertai gatal yang tidak biasa. Tangan kita kerap kali pengen menggaruknya. Kita antara mau dan enggan. Takut garukan itu mengenai pusat luka yang sensitif dan menimbulkan luka baru lagi. Padahal luka itu nyaris menutup dan sembuh.
Kadang kala, kita berada pada kondisi luka itu. Luka yang gatal itu adalah kondisi darurat kita. Luka yang nyaris mengering itu ibarat hati kita yang sedang gelisah, hati yang sakit, hati yang sedang gundah gulana akibat situasi yang tidak kita harapkan. Luka-luka itu perlu wadah untuk menampung rasa sakit, perih, dan gatal yang berlebihan.
Pada kenyataannya, kadang kita lupa atau bahkan sulit memaklumi. Tidak semua yang gatal harus digaruk. Saat digigit nyamuk, tangan kita refleks menggaruk dan wajar bila digaruk. Kepala kita gatal mungkin karena banyak ketombe, tangan kita refleks menggaruk. Namun, soal gatalnya luka yang merupakan proses sembuhnya luka itu sendiri, perlukah digaruk? Enggak. Kita harus butuh sedikit sabar dan hanya mengelus-elus sekitaran luka itu agar proses penyembuhannya berjalan sempurna, agar sel kulit yang baru bisa menjalankan tugasnya untuk menutup luka itu dengan cepat.
          Begitu pula dengan hal, masalah, situasi yang sedang kita hadapi yang ‘sedikit’ menganggu hati dan pikiran kita. Seringkali kita kalah dengan kegegabahan untuk bereaksi atas aksi-aksi yang ‘mengganggu’ itu. Tanpa terlintas sedetik pun bahwa rasa “gatal” yang kita alamin malah akan semakin parah jika digaruk. Meskipun akan terasa enak dan nyaman menggaruk sesuatu yang gatal itu. Namun, kenyamanan itu malah menjadi jebakan. Keadaan akan semakin parah dan memburuk.
Begitulah situasi yan seringkali kita alami. Tidak semua hal di dunia ini perlu kita komentari dan kritisi, apatah lagi bukan kapasitas kita untuk mengomentari itu. Biarkan yang ‘berhak’ mengklarifikasinya. Jika terdengar kicauan-kicauan orang tentang diri kita yang tidak semestinya, kicauan-kicauan yang bisa menyulut amarah dan emosi kita yang meledak-ledak, kicauan-kicauan yang seolah akan menjatuhkan bahkan terdengar seperti fitnahan, “garuk”lah kegatalan yang menganggu kita itu sesuai porsinya asal tidak sampai menerjunkan kita masuk dalam perangkap emosi yang berlebihan.
Saat kita mendapati teman-teman sedang berkumpul menggibahi bahkan menggosipi seseorang lainnya, semoga lidah kita terkendali untuk tidak ikut membaur dalam kegiatan makan bareng bangkai saudara sendiri. Tidak semua yang gatal harus digaruk. Jangan sampai ketika tangan kita terlanjur menggaruk bagian yang gatal itu, kita telah menjerumuskan diri kita untuk masuk ke liang dosa.
Melihat diskon besar-besaran di mal. Ya Ampun, ingin rasanya melahap habis produk-produk diskonan itu. Rugi rasanya melewatkan kesempatan yang langka itu. Dengan dalih dan pembenaran pada diri sendiri “Kapan lagi?” Padahal, barang yang diskon itu tidak kita butuh-butuhkan amat. Tidak digunakan sekepepet mungkin. Tapi hanya untuk memuaskan lapar mata semata. Secara tidak langsung, kita telah diperdaya oleh teknik marketing brand tersebut. Ketika kita sudah terlanjur membayar tunai atau menggesek credit card, setan tertawa dan mengumandangkan bahwa kita telah masuk perangkapnya. Kita terlalu gatal mengeluarkan uang demi kepuasan sementara. Dan akhirnya, tiba di rumah, barulah kita menyadari. Gatal yang telah berhasil kita garuk melepuh dengan rasa penyesalan.

Saat netizen latah dengan aplikasi yang lagi hits di media sosial, hoaks yang bertebaran tanpa pertanggungjawaban, dan hujatan yang mudah sekali kita muntahkan di kolom komentari sang selebgram atau artis, kita perlu menamengi diri kita dari pengendalian diri yang kuat. Tidak semua yang gatal harus digaruk. Tidak selalu aplikasi yang lagi hits kita gunakan demi kepentingan eksistensi diri. Tidak selalu postingan orang di media sosial perlu kita komentari dengan pisau jempol kita yang mengiris hati. Tidak semua, tidak selalu, tidak selamanya hal-hal di dunia ini  yang mencuat ke permukaan harus kita “garuk”.

“Menggaruk” dalam hal ini “bereaksi” atas aksi yang terjadi adalah sebuah hal yang lumrah selama garukan itu wajar dan tidak membuat hati kita infeksi. Sebab menggaruk artinya kita merespons, mengungkapkan isi hati sesuai dengan aksi yang ada di hadapan kita, tetapi segalanya memiliki porsi. Garuklah sewajarnya. Sebab, menggaruk sesuatu yang gatal merupakan bentuk pengendalian diri kita untuk tidak melakukan sesuatu secara impulsif.

Rabu, 01 Januari 2020

Assalamualaikum 2020




CACATKU DI MASA LALU ADALAH KESEMPURNAANKU DI MASA DEPAN.
Dan SYUKUR, adalah KOENTJI.


Tidak terasa, kalender masehi sudah bertapak ke angka 2020. Sedang angka usia juga semakin melaju pesat tanpa banyak kesadaran. Waktu, tenaga, prestasi, polemik, capaian-capaian duniawi, lewat seseret saja. Bisanya hanya flashback, berenang di masa lalu, sambil ketawa-ketiwi, senyum-senyim, tergelitik, merenung, menitikkan air mata untuk semua hal yang terlewati. Masuk ke lorong waktu dengan penuh rabaan dan ingatan klise yang mengabu-abu dalam memori. Ketawa-ketiwi tentang hal lucu, peristiwa konyol beberapa tahun silam bersama teman sekolah dan geng kuliah, Waw... itu sepuluh tahun yang lalu. Senyum-senyim mengenang kedekatan Mama Bapak Adik Kakak yang hampir setiap hari, Oh No... selengkap itu, tanpa beban hidup yang berarti. Sudahlah, kala itu adalah belasan tahun lalu. Tergelitik dengan kisah kasih percintaan dari banyak kasmaran yang pernah dilewati, haha ini tak perlu banyak bahasan. Merenung, tentang kesalahan-kesalahan besar saat itu, menitikkan air mata, tentang semua kesedihan dan jerih payah kaki, hati, tangan ini untuk merebut cita-cita dunia beberapa tahun lalu. Dan pastinya, tentang semua KEBAHAGIAAN yang tak bisa dieja dan dihitung dari rangkuman hidup hingga detik ini.

Hari ini, mungkin akan menjadi masa lalu. Akan berada di emperan sejarah, sama seperti yang tadi saya lakukan, mengoyak masa lalu dengan penuh debaran di hati, TERLALU MENGESANKAN
Memang benar, bahwa jarak terjauh yang tak bisa kita jangkau adalah MASA LALU. Ada yang bisa menjangkaunya, adalah doraemon, lewat alat ajaibnya. Jelas ini fiktif.  Kamu juga bisa, paling tidak, kalau kamu bisa menciptakan lorong waktu sama seperti sinetron di SCTV belasan tahun lalu. Bahkan orang terkaya di dunia sang milyarder Jeff Bezos asal Amazon, yang duitnya Rp 1.830 TRILIUN pun tidak mampu kembali ke ruang masa lalunya.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Rasanya terlalu banyak rencana untuk memperbaiki cacat masa lalu, sampai bingung dan kewalahan harus dimulai dari mana. Apa iya, ada waktu memperbaiki masa lalu? Apa kabarnya masa depan? Yang mana yang harus dikejar duluan?

Kecacatan masa lalu di sini adalah sebuah tindakan yang sebenarnya bisa diminimalisasi agar tidak terjadi, bisa dihindarkan, bisa urung dilakukan, atau diganti dengan perlakuan yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih bisa menguntungkan di hari kelak. Ini bisa kena pada persoalan, belajar di sekolah, di kampus, menentukan pilihan hidup, pasangan, dan karier. Namun, memikirkan kecacatan yang telah lewat itu, hanya menanggalkan rasa kurang bersyukur, dan pada akhirnya, yang terucap hanyalah kata SEANDAINYA SAAT ITU,, SEANDAINYA,, dan SEANDAINYA.

Tapi, menurut saya “kecacatan” itu wajib dievaluasi dan diperbaiki, tanpa harus mengesampingkan rencana masa depan.

Rasanya sudah terlalu banyak hal yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kualitas diri, baik dalam hal profesionalitas kerja, sosial, atau yang lebih penting, kualitas diri sebagai Hamba ALLAH. Ini nih yang paling berat. Ya jelas, tidak ditampik, sengaja atau tidak disengaja, ALLAH seringkali dinomorduakan L, Astagfirullah.  Di sisa usia yang ada—yang entah sisanya berapa? 20 tahun, 10, tahun, 5 tahun, atau jangan-jangan sehari, bahkan satu jam ke depan? Bisa menebus kecacatan itu? Tampaknya kita kekurangan waktu.

Lantas, apa yang perlu dilakukan sekarang?

Hal pertama yang bisa dan wajib dilakukan adalah BERSYUKUR. Allah telah berjanji dalam firman-Nya, jika kita bersyukur maka Dia pun akan menambah nikmat pada kita.  Seperti yang tertuang dalam Al-quran surah Ibrahim ayat 7 yang artinya:  "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."

Ya, rasa syukur. Mensyukuri atas segala yang terjadi. Kita manusia. Kecacatan adalah hal lumrah bagi manusia. Memaafkan diri sendiri adalah satu langkah yang harus ditempuh. Bukankah Allah bisa “memaklumkan”? kata “memaklumkan” sesuai ayat di atas tentunya dengan S&K yang berlaku ya...
Setelah memaafkan diri sendiri dan bersyukur, saatnya untuk selalu mengingat nikmat yang Allah berikan. Salah satunya, ya kehidupan ini, napas ini, jiwa dan raga yang sehat ini, akal yang masih berfungsi dengan semestinya. Dengan adanya ini semua, kita bisa menyadari, dan berkontemplasi atas segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Dan yang paling penting adalah, MEMPERBAIKI. Memperbaiki Habluminallah dan Hablumminannas.
Semoga kita selalu bersyukur dan terus belajar memperbaiki diri, intropeksi, dan bercermin. Bersyukur atas kaki yang bisa berjalan, tangan yang bisa menggaruk yang gatal, hidung yang sempurna, atap untuk berteduh, anak yang ceriwis, orang tua yang selalu ada, pasangan yang baik hati, pekerjaan yang layak, sekolah yang bagus, tetangga yang murah senyum, sahabat yang selalu ada, tukang sampah yang selalu mengangkut sampah busuk kita, masa lalu sebagai tempat belajar, ah terlalu banyak. Ribuan page pun kutuliskan, sungguh kemurahhatian ALLAH tidak bisa ditakar.
Jelas, dibalik ‘kecacatan’ masa lalu yang perlu diperbaiki sebagai intropeksi dan bahan belajar, ada masa depan yang perlu ditata, dipercantik, dikelola dengan baik, untuk masa depan yang sesungguhnya, menuju hari ‘persidangan’ kelak.
Semoga, hari ini adalah menjadi masa lalu terbaik versi kita.

Jumat, 13 September 2019

Campak Jerman


Apa hanya aku aja yang AUTO PANIK ketika mendengar anak didiagnosa terkena penyakit dengan embel-embel nama negara di belakangnya?

↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭↭

Aku masuk ke ruangan dr. Michael dan langsung disambut ramah dengan senyuman khas dokter anak. Aku langsung memaparkan kondisi Jinan terkait imunnya yang sedang melemah. Badannya penuh ruam merah, khususnya daerah punggung dan paha. Ruam itu muncul dua hari setelah demam pilek melandanya. Saat ruam itu muncul, aku mulai curiga, jangan-jangan Jinan terkena campak (lagi).
Lagiii??? Aku berasa lemas.

Lima bulan yang lalu (saat itu Jinan berusia 8 bulan) Jinan sudah terkena campak. Belajar dari situ, aku bertekad tidak hanya memenuhi vaksin wajibnya, tetapi juga sesegera mungkin memberikannya vaksin sunnah, eh maksudnya vaksin tambahan pasca suhu tubuhnya normal. Salah satu vaksin tambahan adalah Vaksin MMR.
Vaksin MMR merupakan vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi campak, gondong (yang dikenal dengan istilah bengkak babi), dan juga rubella. Karena emaknya lalai,,, belum sempat vaksin MMR dituntaskan,,, ehhhh si anak keburu kena campak. Jadi merasa bersalah rasanya. Tapi, sama seperti yang pernah aku bahas di artikel sebelumnya ya mengenai vaksin. Bahwa anak yang sudah divaksin, bukan berarti tidak akan terkena penyakit sama sekali. BIG NO. Vaksin sekadar memberikan efek meredakan atau ketika anak terkena penyakit tertentu, maka vaksin yang telah diberikan bertugas meredakan dan menyembuhkan lebih cepat. Jadi, anak yang telah divaksin akan lebih cepat sembuh dibandingkan anak yang tidak divaksin.
Pertolongan pertama yang aku lakukan adalah mencari kasumba turate. Hehe. Ini andalanku banget ketika ruam-ruam merah mulai menampakkan cahayanya di tubuh Jinan. Dua hari berlalu, rasanya tidak ada perubahan signifikan. Ruam merah di pahanya semakin memerah, malah makin timbul dan membesar. Saat tidur, Jinan gelisah ke sana ke mari, seperti mencari posisi yang nyaman untuk rebahan.  Gejala yang timbul kali ini beda dengan campak lima bulan yang lalu. Tangannya tidak berhenti menggaruk-garuk punggungnya. Ingusnya juga semakin meler. Kelenjar getah beningnya terlihat lebih membengkak. Kali ini tidak biasa. Bikin panik. Apalagi Bundanya tipe manusia dengan cemas yang berlebihan. Daripada terjadi drama berlebihan padaku diriku, akhirnya kuputuskan untuk konsultasi ke dokter pada hari itu juga.
Berhubung hari itu tanggal merah, poli di beberapa rumah sakit tidak praktik, tak terkecuali poli anak. Dokter anak langganan pun jelas tidak praktik hari itu. Qadarullah, setelah menelepon beberapa rumah sakit, kami mendapat rumkit yang poli-nya tetap buka meski tanggal merah, yaitu di RS Siloam. Aku mencoba mendaftar via call center dengan dokter yang available saat itu yaitu dr. Michael. Senangnya lagi, dokternya ramah, ia memeriksa dengan teliti dan lama (pelayanan seperti ini tidak semua dilakukan dokter loh) makanya, aku bersyukur banget. Bertanya apa saja tanpa merasa diburu waktu adalah sebuah kepuasan tersendiri bagiku sebagai pasien.
“Ini campak jerman”, kata dr. Michael setelah melakukan pemeriksaan yang dalam dan lumayan lama (jika dibandingkan dengan dokter-dokter sebelumnya dalam memeriksa).
Sontak dong aku kaget. Rasanya, penyakit-penyakit yang berlabel nama negara adalah sebuah penyakit serius dan langka. ”Apa itu, dok?” bertanya sok kalem padahal panik.
“Biasa disebut rubella” jawab dokter dengan jeda yang lumayan panjang. Ia sudah menerka pertanyaan apa yang akan kembali aku lontarkan.
“Bahaya ya, Dok?”
“Tidak. Ini campak yang biasa dialami oleh bayi seusia Jinan. Normal, kok”. Bedanya, ruam pada campak jerman akan lebih menonjol, begitu pula dengan kelenjar getah beningnya, akan terlihat membengkak. Campak jerman sembuh dengan sendirinya, jadi nggak usah terlalu cemas, Bukkk” penjelasan dokter membuatku agak kalem.
“Ibu nggak sedang hamil ‘kan?” tanya dokter lagi.
Nggak. Kenapa dok?”
“Yang membedakan campak biasa dan campak jerman adalah kerentanan tertularnya terhadap ibu hamil. Jadi, ibu hamil disarankan untuk jaga jarak dengan orang yang sedang terkena campak jerman karena mengakibatkan sindrom rubela kongenital. Sindrom ini terjadi pada sekitar 80% bayi yang lahir dari ibu yang menderita campak. Masalah yang timbul dari sindrom rubella kongenital, yaitu: katarak, tuli, kelainan jantung kongenital, cacat organ, cacat intelektual, pertumbuhan yang tertunda, keguguran dan bayi lahir mati.


PERBEDAAN CAMPAK DAN CAMPAK JERMAN

CAMPAK
CAMPAK JERMAN
PENULARAN
Jauh lebih Menular dan menyebabkan sakit parah
Penularan tidak begitu mudah
MASA INKUBASI
1 – 2 minggu
2 – 3 minggu
GEJALA
10 hari
Maksimal 5 hari




DAMPAK
Pembengkakan kelenjar getah bening tidak begitu tampak
Pembengkakan kelenjar getah bening akan tampak
Ruam pada campak dapat bertahan beberapa saat
ruam campak jerman dapat dengan cepat memudar.
Setelah diresepkan puyer, dr. Michael menyarankan agar Jinan di vaksin MMR saja setelah dia sehat. Awalnya aku berkilah, kenapa nggak di vaksin MR saja? Sesuai penjelasannya, kalau vaksin MR memang salah satu imunisasi yang disarankan pemerintah untuk membantu mencegah penyakit tempek dan juga rubella. Hampir sama dengan vaksin MMR, bedanya, vaksin MMR lebih lengkap lagi, karena dapat melindungi tubuh dari gondongan.
Setelah mengangguk paham. Aku kembali bertanya, “sebenarnya apa penyebab anak terkena campak itu, Dok? Karena aku merasa sudah menjaga pola makan Jinan, sterilkan benda-benda yang ada di sekitarnya, membersihkan kamar hampir setiap saat, dan menghindari Jinan terkena udara luar terlalu lama.
Berdasarkan penjelasan dokter, penyakit campak jerman adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan dari satu orang ke orang lain. Virusnya dapat menyebar melalui udara ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, atau melalui kontak langsung dengan peralatan yang digunakan penderita seperti alat bantu pernapasan bahkan hanya sekadar sentuhan.
Aku kembali memutar ulang waktu. dr. Michael benar. Belakangan ini aku terserang flu. Berkali-kali bersin ketika Jinan lagi nenen meskipun aku sudah mengenakan masker agar ia tak tertular.
 Cara Pencegahan Campak Jerman, Selain dengan vaksin MMR, campak bisa dicegah dengan cara mencuci tangan setelah melakukan aktivitas di luar ruangan, buang air, atau melakukan aktivitas lain. Mengganti baju terlebih dahulu sebelum memeluk atau menggendong anak setelah dari luar rumah, dan hindari daerah-daerah yang rawan akan penyakit campak.


Sumber:



Senin, 25 Maret 2019

The Power Of Kasumba Turate



Sudah Vaksin Campak, Kok Masih Kena Juga???




Hal apa yang lebih mencemaskan dari anak yang tiba-tiba demam tinggi?? Haaa... sebagai seorang ibu yang newbie, kondisi ini rasanya menjadi kekhawatirkan yang paling meresahkan. Bingung, linglung, dan parno menjadi satu. Memasuki usia 10 bulan tepat di November 2018 kemarin, Baby Jinan mengalami demam tinggi ditambah batuk pilek yang membuatku sebagai ibunya merasa tersiksa. Andai kata sakit yang Baby Jinan derita bisa dipindahkan saja ke diriku, mungkin aku akan melakukan itu. Sakitnya sang anak ternyata berpengaruh banget dengan psikis sang ibu. Makan tak enak, tidur pun tak nyaman. Anakku, get well soon... (menatap anak dengan mata nanar).
...
Awalnya, Baby Jinan mengalami demam hingga 38 derajat. Demam berangsur turun hingga suhunya kembali normal. Keresahanku mulai hilang. Baby Jinan juga kembali bersemangat dan riang. Namun, seharian berlalu, malam itu keresahanku kembali datang. Kebahagiaanku sirna. Ruam merah di sekitaran lengan dan punggung timbul dan menjalar hingga ke wajah. Aku berpikiran ruam di punggung hanya biang keringat, karena kulitnya termasuk kulit sensitif, mudah memerah, apalagi ketika hawa lagi panas-panasnya. Suhu badannya tetap normal, hanya main di 36-37 derajat saja, tetapi ruam semakin menampakkan merahnya di sekitaran wajah imutnya.
Aku mulai menyadari bahwa Baby Jinan terkena sarampa. Setelah meluncur ke google—helper andalan saat kepala digelimang tanya, beberapa artikel menuturkan sarampa ini akan berlangsung antara 5-7 hari. “Lamaaaaa Sekali. huhuhu”, keluhku dalam hati.

...
Mungkin istilah “sarampa” bagi masyarakat Sulawesi Selatan sudah terdengar awam. Bahasa latin penyakit ini Exanthema Subitum. Penyakit sarampa kerap kali disamakan dengan penyakit campak. Bahkan tidak sedikit artikel yang menyamakan antara sarampa dan campak, malah ada juga yang menyamakannya dengan cacar air. Entah benar-benar sama atau tidak.
...
Sebulan lalu, saat Baby Jinan berusia 9 bulan, ia sudah menuntaskan vaksin wajibnya, yaitu vaksin campak I yang akan dilanjutkan pada vaksin campak II di usia 18 bulan mendatang.
Sempat bertanya-tanya juga sih dalam hati, Kan sudah divaksin campak, kok masih kena juga?  Aku merasa tidak ada kondisi spesifik yang memicu datangnya penyakit sarampa ini ke tubuhnya. Namun, penyakit ini memang sering menyerang bayi hingga dewasa. Bisa jadi, daya tahan tubuh Baby Jinan sedang menurun kala itu, apalagi saat itu emang musim pancaroba.
Karena awam soal penyakit ini, taruhlah sarampa itu memang istilah lain dari campak. Ternyata tidak menutup kemungkinan bayi yang sudah vaksin campak akan terkena campak di kemudian hari. seperti yang dialami oleh Baby Jinan. Imunisasi ‘kan sekadar melemahkan virus lewat pemberian vaksin ke dalam tubuh agar tubuh kebal dari penyakit tertentu (sesuai jenis vaksin imunisasinya). Jadi, tidak menjamin imunisasi campak bisa menghindarkan anak 100% dari penyakit itu. Setidaknya, dengan imunisasi campak yang bersifat wajib ini, penyakit campak yang menyerang, bakal jadi ringan dan mudah penyembuhannya.
...
Teknik penyembuhannya pun sebenarnya tergolong mudah, tapi banyak pula mitos yang beranggapan bahwa bayi atau anak-anak yang terkena sarampa tidak diperkenankan untuk mandi. Padahal penyakit ini bukan keadaan yang menyebabkan seseorang dilarang mandi, Loh. Malahan, mandi akan menjaga tubuh tetap bersih serta terhindari dari kuman lainnya yang akan memicu penyakit semakin parah.
Sebenarnya, dilema juga sih dengan teori itu. Takut salah langkah, berhubung diriku adalah newbie dalam dunia peribu-ibuan yang dihadapkan dengan kondisi anak sedang sakit. Jadi, teori yang kudapat dari nge-googling adalah yahh seperti teori di atas itu, tetapi teori yang kudapat dengan pengalaman orang tua jauh berkontradiksi. Jadilah kebingungan semakin menjadi-menjadi. Hehe.
Daripada muncul perseturuan pendapat antara millennial parent dengan millennial grandparent, akhirnya aku mengambil jalan pintasnya. Aku mencoba membasuh badan Baby Jinan dengan air hangat dan berendam sedikit dengan cairan antiseptik. Selanjutnya, dikeringkan dengan cara ditepuk-tepuk hingga kering.
Dokter mengatakan penyakit ini normal terjadi pada anak usia 9 bulanan ke atas. Setelah konsultasi, dokter memberikan resep racikan obat penurun panas. Namun, sebelum memutuskan memberikan obat resep dokter tersebut, aku berusaha untuk mengobatinya dengan obat herbal.
Aku masih ingat dengan jelas, saat aku mengalami Sarampa di usia 9 tahun, Aku meminum secangkir air putih yang dicampur taburan  putik bunga berwarna jingga kemerahan. Putik bunga itu dikenal dengan Kasumba Turate. Kasumba Turate atau Chartamus tinctorius L. adalah obat herbal Sulawesi yang diyakini dapat mengatasi penyakit sarampa karena  mengandung banyak senyawa aktif yang membantu dalam penyembuhan penyakit ini. Kandungan dari Kasumba Turate adalah chartamin kuning  dan dye chartamin. Bunga ini sebenarnya belum digunakan secara meluas untuk pengobatan, meskipun khasiatnya tidak diragukan lagi untuk menyembuhkan sarampa ataupun kulit gatal karena alergi.
Aku mengonsumsinya tiga kali sehari dan benar-benar manjur alias sarampa terhempas dalam beberapa hari saja, syukur-syukur tidak mengalami komplikasi. FYI, jika campak tidak ditangani dengan sigap, komplikasi penyakit ini bahkan membahayakan, yang timbul selanjutnya adalah radang paru-paru, gangguan pencernaan, hingga radang otak.
 Akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan Kasumba Turate untuk pertama kalinya pada Baby Jinan. Kasumba Turate sangat mudah didapatkan, khususnya di pasar tradisional. Bisa ditemukan di lapak pedagang sayur atau sembako. Sebenarnya yang ditemukan di pasaran sudah berbentuk ekstraksi yaitu sediaan yang kering. Pedagang kadang mengemasnya dalam plastik kecil dengan harga yang terjangkau, kira-kira sekitar Rp 1.000/plastik.

Cara mengonsumsi kasumba turate ini mudah banget. Pertama-tama, Kasumba Turate direbus dengan takaran dua gelas air, bisa juga diseduh dengan air mendidih. Setelah air bersuhu hangat atau suam-suam kuku, minumkanlah ke anak. Rasanya tidak berbeda dengan air biasa sehingga anak dengan mudah meminumnya.



Selain Kasumba Turate, air kelapa juga dianggap ampuh untuk menyembuhkan penyakit sarampa.  Air kelapa mengandung banyak nutrisi seperti lemak, karbohidrat, protein, vitamin C, serta berbagai mineral seperti zat besi, kalsium, dan magnesium. Namun, untuk anak di bawah satu tahun, takaran yang diberikan tidak lebih dari 200 ml sekali minum. Baby Jinan ternyata tidak menolak, malah minta tambah. Hehe.
Selain itu, saat suhu tubuhnya demam di atas 38 derajat, aku membalurkan tubuhnya (khusunya di ubun-ubun) dengan irisan bawah merah yang dicampur dengan beberapa tetes minyak tawon.  Ramuan tersebut dibalur saat pagi hari dan malam hari. Selain dibalur, bisa pula menggunakan kaos kaki yang telah dibersihkan dengan air hangat dan memasukkan ramuan tersebut ke dalam lalu dipakaikan pada anak.
Yang tak kalah pentingnya, istirahat yang cukup. Alhamdulilah Si Baby Jinan bisa sembuh, sehat ceria, dan tentunya, Bundanya ikut bahagia dan bersyukur.
Minimalkan pemakaian obat kimia jika yang herbal lebih ampuh!