Selasa, 02 Maret 2021

KALSIUM, KALIUM, DAN MAGNESIUM VERSI SEORANG IBU


            Anas tiba di sekolah dengan seragam yang kusut dan rambut yang acak-acakan. Tidak hanya seragam yang kusut, wajahnya pun tak kalah kusutnya. Rambutnya yang acak-acakan, terlebih hatinya yang beriak. Seperti biasa persoalan klasik yang sama di setiap paginya. Ia kena semprot lagi oleh ibunya yang berusaha membangunkannya, tapi ia tak mengindahkannya. Malah semakin kencang teriakan Ibu dari meja makan, semakin kuat pula tarikan iblis mengelabui tangan Anas untuk menggembungkan selimut ke tubuhnnya. Hingga akhirnya, Ibu sudah berada tepat di sisi ranjang Anas. Mengawasinya untuk bangkit dari peraduannya dan bergegas berangkat ke sekolah. Setengah jam lagi waktu menunjukkan pukul 07.30. 30 menit bukan waktu yang banyak untuk menghindari keterlambatan. Ibu hanya pasrah dan geleng-geleng kepala.

            Jadilah sarapan nasi goreng beraroma sambal matah dan telur setengah matang berlalu begitu saja. Anas hanya melintas, terpaksa mengabaikan aroma sedap yang menggerogoti penciumannya itu. Lalu dengan langkah seribu mengebum motornya menuju sekolah. Tentunya, tanpa salam, makan, dan senyuman. Yang ada hanyalah geram, kesal, dan tentunya lapar.

            Belum selesai perkara di rumah, kesalnya berimbas hingga ke sekolah. Anas dihukum membersihkan toilet sekolah. Ia sudah berada di depan toilet siswa pria yang aromanya sungguh tidak mudah dibayangkan. Ia berdiri sejenak untuk mempersiapkan diri memasuki ruangan yang paling bau sejagad raya itu. Selama mengerjakan hukumannya, mual yang dirasakan Anas hampir setiap detik.

            Sepulang sekolah, Anas tidak langsung pulang ke rumah. Ia transit di Pandora Cyber Cafe, tempat bermain game online yang nyaman dan sekaligus tempat kongko yang paling gaul di Makassar. Selain karena ia memang hobi bermain PUBG Mobile—gim pertempuran hingga menyisakan satu pemain ini memang sungguh menguji adrenalin untuk anak seusia Anas. Kompetitif dan seru katanya. Alasan kedua, karena hatinya belum bisa damai dengan emosi jiwa di pagi hari. Ia masih dongkol dengan segala ke-apes-annya pagi tadi. Belum genap setengah jam asyik ber-PUBG ria, Ibu sudah meneleponnya dan menanyakan posisinya. Anas sekadar meng-iya-iya saja menjawab pertanyaan ibunya dari balik telepon. Sepuluh menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Anas kembali meng-iya-iya saja, dan menutup teleponnya tanpa salam apapun. Matanya kembali fokus ke depan layar komputer. Ia tepok jidat. Ia kalah dalam pertempuran gim itu.

            Kesal Anas makin menjadi-menjadi. Deringan telepon dari ibunya yang kesekian ini benar-benar membuatnya murka.

            “Ada apa lagi, sih?”, jawab Anas ketus. Keningnya mengernyit hingga membentuk angka sebelas.

            “Kamu ini di mana? belum pulang juga. Ibu sudah siapin kamu makan siang, loh!”, Ibu mulai khawatir sekaligus jengkel dengan anak semata wayangnya itu. Tadi pagi Anas tidak sempat sarapan, dan jam istirahatnya di sekolah digunakan untuk membersihkan toilet sekolah. Ditambah ia lupa mengambil uang jajan yang disediakan ibunya di atas meja belajar.

            Sebenarnya, emosi Ibu Anas pun mulai terpancing akibat ulah anak lanangnya itu. Akan tetapi, ia mencoba meredam ego untuk meluapkan amarahnya itu karena ia tahu semakin Anas mendengar nada tinggi ibunya, semakin enggan ia untuk lekas pulang ke rumah. Ibunya khawatir Anas tidak makan dan penyakit gastritis akutnya kembali kambuh.

...


            Matahari sudah mulai beristirahat, sejak pagi hingga petang tugasnya menyinari bumi bagian timur tuntas sudah. Seperti matahari yang lelah itu, Anas pun kembali ke rumah tepat ketika azan magrib berkumandang. Lagi-lagi ia melintas dan berlalu di hadapan ibunya yang pura-pura cuek atas kepulangan Anas. Padahal, hati ibunya yang gelisah seharian pelan-pelan lega melihat sosok yang dinantinya sejak siang tadi akhirnya pulang.

            Selepas magrib, ibu mengetuk-ngetuk pintu kamar Anas. Dengan nada hati-hati mengajak Anas turun ke meja makan untuk menyantap hidangan makan malam yang telah disuguhkan ibu dengan penuh kasih sayang. Chicken Fillet dan sambal Roa, makanan kesukaan Anas pun telah nangkring di sana. Ibu sengaja menyediakan itu semua demi mengembalikan mood Anas yang “hujan” seharian.

            Bukannya disambut senyum, dengan ketus Anas malah menjawab sesuatu yang tak terduga “Makan aja sendiri. Saya mau tidur saja”.

            Kalimat itu seperti pisau yang tertancap di dada Ibu. Ia merasa menjadi ibu yang sangat gagal dalam membahagiakan Anas. Dari balik pintu kamar Anas, ada tetesan tangis yang meluncur perih di pipi. Makan aja sendiri... kalimat itu mendengung hingga ke seluruh sudut-sudut pikiran Ibu. Ia merasa tidak dipedulikan oleh anaknya sendiri. Apalagi semenjak Ayah Anas meninggal, Ibu menjadi sangat sensitif. Padahal Anas sudah menjadi orientasi dan prioritas Ibu.

            “Kamu ini kenapa? Perutmu itu seharian tidak menyentuh nasi. Kalau kamu sakit, siapa yang repot? Turun makan sekarang!”, pinta Ibu yang digerayangi pikiran tak menentu. Antara khawatir, gelisah, marah, dan kecewa pada Anas.

            Anas akhirnya keluar dari kamar. Bukan perintah Ibu yang menekannya untuk mengerik daun pintu, tapi karena tersulutnya emosi yang yang telah terakumulasi sejak pagi tadi.

“Ya sudah kalau Ibu merasa direpotkan selama ini dengan keberadaan saya. Saya pamit dari rumah ini”, Anas memunggungi tas ranselnya.

Anas berlalu menyelatani ibunya yang diam seribu bahasa. Bukan lagi pisau yang menancap tepat di dada Ibu, kini sembilu yang meremukkan hatinya. Kalimat untuk mencegah Anas pergi dari rumah pun rasanya berat untuk dikeluarkan. Kini matanya tak lagi gerimis, tetapi hujan deras menderanya. Perasaannya tak lagi mendung, tapi diterpa badai kesakithatian. Lagi-lagi, ibu menyalahkan dirinya sendiri karena sudah gagal mendidik Anas.

...

            Anas minggat dari rumah dengan bermodalkan seragam sekolah dan beberapa buku yang dicomotnya dari meja belajar. Sedikit beruntung, ia juga sempat mengambil uang jajan yang disimpan ibunya tadi pagi tepat di atas buku yang dicomotnya itu. Paling tidak, bisa untuk bertahan hidup selama sehari. Anas memutuskan untuk ke Pandora Cyber Cafe karena bingung harus ke mana dengan uang yang tak seberapa itu. Baru kali ini ia ke sana tanpa bermain PUBG, padahal ia sangat tergiur melihat temannya tenggelam dalam pertempuran hebat di gim itu. Ia memesan indomie goreng lengkap dengan telur mata sapi. Ia begitu lahap dan sangat menikmatinya.

            Anas bertemu dengan Didit, teman sekelasnya yang juga hobi bermian PUBG di kafe yang buka hingga 24 jam itu. Itu pula salah satu alasan Anas memutuskan ke sana karena ia mengandalkan temannya untuk ikut pulang dan numpang tidur di rumahnya. Anas pun akhirnya bisa tertidur nyenyak di rumah Didit. Ia merasa kelelahan sekali karena pikirannya begitu berat hari ini. Seharian emosi negatif membebaninya. Belum lagi asupan makan yang kurang membuatnya semakin lemas dan akhirnya tertidur di kamar Didit.

            Sedang dari kamar yang berbeda. Ada seorang Ibu yang masih bergelut dengan kesakithatiannya, kesendiriannya, dan ketidakberdayaannya. Segala kesedihan itu bercampur dengan kegelisahan dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri ke mana Anas pergi, di mana Anas tidur, dan amankah dia di tengah malam begini. Beberapa nomor telepon teman Anas yang tersimpan di kontak HP-nya akhirnya diteleponnya satu-satu. Meskipun tak satu pun yang mengangkatnya karena jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

            Syukurnya, Ibu terhubung dengan Ibu Indar, guru Biologi sekaligus wali kelas Anas. Setelah menjelaskan detail permasalahan, Ibu Indar melakukan kroscek segera. Bukan Ibu Indar jika ia tidak dapat menemukan di mana keberadaan Anas. Akhirnya Ibu mulai sedikit lega mengetahui Anas berada di rumah Didit.

....

            Jam pelajaran pertama segera dimulai. Anas dan Didit sudah berada di kelas berpapasan saat Mang Karim—bujang sekolah membuka kunci kelas. Terlalu pagi untuk Anas. Didit pun heran, tumben sekali Ayahnya mengantarnya ke sekolah dan sepagi ini pula.

            “Selamat pagi Anak-Anak...”, sapa Ibu Indar sebelum memulai pelajaran. Siswa kompak membalas salam Ibu Indar.

            Ibu Indar membawa semangkok mie instan dengan taburan cabe rawit yang lumayan banyak. Kira-kira lima biji yang dipotong menjadi beberapa potongan. Juga segelas air mineral di gelas bening yang ditaruhnya di atas meja guru.

            “Hari ini kita akan belajar tentang kandungan yang ada dalam air”, Ibu Indar mulai menjelaskan materinya.

            “Sebelum masuk ke materi, Ibu tanya dulu pada kalian. Siapa di sini yang tidak membutuhkan sosok seorang Ibu?”, tanya Ibu Indar membuat siswa bertanya sambil menatap satu sama lain. Mereka menggeleng pelan.

            “Ada yang lahir bukan dari rahim seorang Ibu?”, pertanyaan Ibu Indar kali ini meriuhkan kelas dengan cekikikan.

            “Tania, seberapa pentingkah sosok Ibu dalam hidupmu?”

            “Penting banget, Bu. Seorang ibu tidak hanya telah melahirkan saya, tetapi juga mengasuh dan mendidik saya.”, jawab Tania.

            Baik anak-anak. Pertanyaan selanjutnya.

“Siapa di sini yang tidak membutuhkan air dalam hidupnya?”, Ibu Indar mulai mengapersepsi.

            “Saya Bu. Aku tidak butuh air. Air mata maksudyaaa...”, seru Doni mencoba melawak.

            “Huuuu”, para siswa mencibir.

            “Ya nggak ada lah, Bu. Wong tubuh kita isinya hampir 60% adalah air. Ya kan Bu?”, jawab Doni lagi sambil menunjukkan ekspresi bangganya.

“Betul Doni. Selama kita hidup, air menjadi komponen utama dalam tubuh kita, yaitu sekitar 55% hingga 60% pada dewasa. Pada anak-anak bahkan mencapai 75%. Jadi, Ini menandakan bahwa dalam menjalani kehidupan, sejak bayi hingga renta, terhidrasi adalah harga mati. Kekurangan asupan air dapat menyebabkan beberapa dampak negatif bagi tubuh kita. Seperti kehilangan cairan tubuh, terjadi gangguan pengaturan temperatur tubuh, dapat mengakibatkan hilangnya nafsu makan. Dehidrasi juga dapat mengakibatkan gangguan pada saluran pencernaan, bahkan kematian.”, terang Ibu Indar sembari mengarahkan siswa untuk memperhatikan segelas air yang dipegangnya.

“Nah, sekarang. Ibu akan memberikan sarapan gratis untuk satu orang beruntung di kelas ini”, tawar Ibu Indar.

Mata Ibu Indar menjejal ke seluruh bangku dan berhenti tepat di mata Anas.

“Ya, Anas. Silakan diicip makanan buatan Ibu ini”, Ibu Indar mengarahkan Anas untuk maju ke depan dan memakan Indomie goreng telur itu.

Dengan segan Anas memakannya seraya bertanya-tanya dalam hatinya. Materi apa yang Ibu Indar hendak sampaikan ini sampai mengharuskannya makan mie segala”.

Baru tiga suap, Anas sudah merasa kepedisan. Sambil mengunyah, ia melirik tajam ke segelas air yang ada di meja guru.

“Bagaimana? Enak?”, tanya Bu Indar.

“Ee.. enak, Bu”, terang saja ia mengatakan itu, karena jika ia mengingkari itu ia sudah tahu akibatnya akan seperti apa.

“Bu.. boleh minum, Bu.”, Anas kembali melirik ke segelas air itu.

“Silakan duduk, Anas”, Ibu Indar mengalihkan permintaan Anas. Siswa yang lain tertawa kecil melihat tingkah Anas yang kepedisan tanpa digubris sedikit pun oleh Ibu Indar.

“Seberapa pentingkah air bagi manusia?”, Bu Indar memancing jawaban siswa.

            Beberapa siswa mengemukakan jawabannya secara rasional.

            “Jadi anak-anak, kira-kira. Kalau kita dipaksa memilih, antara hidup tanpa air atau hidup tanpa air, kalian akan memilih yang mana?

            Siswa kembali mengemukakan pendapat dengan pertimbangan pribadinya, ada pula yang tidak memilih sama sekali. Sulit, katanya.

“Nah, anak-anak. Kandungan yang terdapat dalam air, di antaranya adalah kalsium, sodium, kalium, magnesium, bikarbonat, dan zat-zat lainnya yang berfungsi penting menjaga kesehatan tubuh Kalsium adalah zat yang dikenal memiliki fungsi penting untuk menjaga kesehatan dari organ tulang agar terhindar dari proses pengeroposan tulang dan menjadikan gigi kuat dan terhindari dari berbagai penyakit gigi. Sodium berfungsi menjaga kadar air di dalam tubuh. Jika ketersediaan Sodium tidak seimbang, bisa menyebabkan kerusakan dan gangguan pada sel tubuh. Tak lupa dengan kandungan magnesium yang bermanfaat sebagai zat pembentuk sel darah merah berupa zat pengikat oksigen dan juga hemoglobin. Ada pula kalium, elektrolit yanng berfungsi untuk menghantarkan informasi melalui saraf, berfungsi untuk menjaga otot-otot pada tubuh agar bisa berkontraksi dengan tepat dan juga kuat. Kalium juga membantu berdetaknya jantung, membantu distribusi nutrisi sel-sel tubuh, dan pemeliharaan tulang. Dan masih banyak lagi kandungan dalam air yang bermanfaat untuk tubuh kita.

“Luar biasa ‘kan kandungan air bagi kehidupan kita?”, Ibu Indar mengajukan pertanyaan retorisnya. Siswa mengangguk-angguk paham sembari mencatat penjelasan Ibu Indar.

Begitu pula sosok Ibu, anak-anakku sekalian. Kita tidak akan hadir di dunia ini jika Ibu kita tidak berjuang mempertahankan dan menjaga kita sejak berwujud janin hingga menjadi manusia utuh seperti saat ini.

Kita tadi sudah mempraktikkan, ketika Anas makan dan dia kepedisan. Apa yang dicarinya? Tentu adalah air. Harus ke sekolah tapi air di rumah tidak mengalir, Pede nggak kita ke sekolah dalam keadaan bau karena nggak mandi?

Begitu pula Ibu, seperti air, sumber kehidupan kita. Jika dalam air terdapat kandungan kalsium yang menjaga kesehatan agar terhindar dari pengeroposan, ibu kita adalah sosok yang menjaga kesehatan kita agar tidak mudah sakit. Sarapan, makan siang, makan malam selalu disediakannya, agar kesehatan kita senantiasa terjaga.

Jika di dalam air mengandung sodium yang menjaga kadar air dalam tubuh kita, Ibu senantiasa menjaga kadar cintanya pada anaknya. Perlu bukti? Mungkin kalian sering mendengar, mantan suami atau pun mantan istri. Tapi pernah nggak kita mendengar ada mantan anak? Tidak ada. Kadar cinta antara anak dan ibu itu tidak bisa dilepaskan. Ikatan batin itu terlalu kuat untuk memutuskan rantai Ibu dan Anak.

Dalam air terdapat kandungan magnesium yang bermanfaat sebagai zat pembentuk sel darah merah berupa zat pengikat oksigen dan juga hemoglobin. Ibu pun adalah sosok yang membentuk diri kita menjadi anak berkarakter baik. Meskipun dengan pola asuh berbeda-beda, setiap pasti akan membentuk dan mendidik anaknya agar berperilaku terikat dengan norma-norma agama dan sosial yang berlaku.

Jika dalam air mengandung kalium, elektrolit yanng berfungsi untuk menghantarkan informasi melalui saraf, Ibu kita pun demikian hebatnya seperti elektrolit yang menghantarkan kita nasihat-nasihat baik ke dalam pikiran kita, doa-doa yang baik ia hantarkan pula ke Tuhan yang Maha Esa demi kebaikan hidup kita, anaknya.

Jadi, gerah banget kan jika kita hidup tanpa air. Tapi lebih gerah lagi kehidupan ini jika kita tidak berbakti pada Ibu kita. Jika itu terjadi, satu berkah kehidupan kita akan terputus. Padahal doa ibu yang mengalir deraslah adalah berkah yang sangat besar untuk kita.

...

Penjelasan Ibu Indar membuat siswanya terkesima, bahkan tidak sedikit yang menitikkan air mata. Tampak Anas yang menunduk dan merasa bersalah atas perlakuannya selama ini. Ibu Indar sengaja menngangkat materi ini. Setelah mendengar curahan hati Ibu Anas semalam, Ibu Indar dengan bijak mencoba menasihati Anas dan siswa lainnya akan pentingnya berlaku baik kepada Ibu.

Sekembalinya Anas dari sekolah, ia bergegas pulang ke rumah, memeluk ibunya yang telah menunggunya di meja makan. Chicken Fillet hangat dan Sambal Roa kembali terhidang di atas meja makan. Ibunya tahu, Anas tak akan lama meninggalkannya. Anas memeluk ibunya, bersimpuh memohon maaf atas khilafnya. Dengan kerendahhatian ibu, ia mencium kening Anas, “kamu adalah kehidupan Ibu, Nak”.

 

Sabtu, 06 Februari 2021

TENTANG SEBUAH KEHILANGAN


Rabu itu—untuk kali ketiga aku terbaring sembari menunggu persiapan operasi di ruangan yang tak asing lagi di pandanganku di satu tahun terakhir ini. Ruangan steril dengan berbagai alat medis lainnya. Mesin anastesi, bukan lagi mesin yang menakutkan. Instrumen bedah? Hahai, benda-benda itu hanya berada hingga pandanganku. Aku tak tahu bagaimana benda-benda tajam itu membedah bagian tubuhku, karena obat bius sudah membuatku nge-fly dan hilang kesadaran hingga akhir o
perasi. Ya, aku sedang berada di operation theatre Rumah Sakit Siloam.

        Awal Januari, aku mengalami anosmia, kehilangan indera penciuman secara normal. Parfum, sabun, dan skin care yang kental dengan wangi khasnya tak tercium sama sekali, aroma membahana pup Jinan tumben sekali tak menusuk-nusuk hidungku, padahal hidungku tipe pendengus yang luar biasa tajam. Mengingat cyrcle suamiku rentan terkena Covid, akhirnya aku pun memutuskan untuk melakukan Swab. Alhamdulillah, Swab keluar dengan hasil negatif.

Atas saran suami, aku memutuskan untuk tes kehamilan karena bisa jadi aku mengalami anosmia pengaruh dari kehamilan. Feeling-nya beberapahari ini memang mengisyaratkan bahwa aku hamil ternyata benar. Sangat berbeda saat kehamilan pertama yang ditandai dengan mual-mual. Tespek itu menunjukkan dua garis dengan sangat jelas. Aku bersyukur, Allah memberikan waktu yang tepat untuk segera hamil lagi tepat di usia anak pertamaku Jinan berusia 3 tahun.

Interval tiga tahun untuk bisa hamil lagi adalah waktu yang pas sesuai anjuran dokter untuk kondisiku yang saat itu melahirkan secara C-Section dengan persalinan kala dua. Padahal, kami tidak sedang melakukan program kehamilan khusus ke dokter obgyn. Ya, lebih tepatnya let it flow aja sih, karena kami percaya Allah akan memberikan rezeki kehamilan di waktu yang tepat. Tentunya dengan ikhtiar menjaga pola makan dan kekuatan doa. Aku bergegas menelepon rumah sakit dan membuat janji temu dengan dokter Lenny, dokter spesial kandungan di RS Siloam Makassar. Aku dinyatakan hamil meskipun gambaran ultrasonografi atau akrab disebut USG menampilan kantung rahim saja. Sebelum pulang, aku diresepkan obat penguat folamil dan duphaston.

Saat dinyatakan positif hamil, segala aktivitas yang kulakukan seperti biasanya mulai selektif aku kerjakan. Syukurnya, aku masih menikmati WFH-ku. Pasca mengajar atau di sela-sela meeting ataupun brieving, aku selalu menyempatkan rebahan dan meminimalisasi pekerjaan berat. Mengontrol agar tidak mudah stres juga menjadi sebuah keharusan. Padahal tidak dipungkiri, pikiranku seringkali masih terbayang-bayang dengan gempa dahsyat di Mamuju, yang merupakan tempat tinggal keduaku, dan sederet berita bencana dan duka lainnya.

  Beberapa hari kemudian, aku mendapati flek kecokelatan. Namun, aku merespons dengan biasa aja karena masa hamil muda, nge-flek itu lazim terjadi sebagai tanda  perlekatan sel telur yang mengalami pembuahan pada dinding rahim, begituu kata mbah gugel.  Berbeda dengan kehamilan pertamaku yang hanya sekali saja mengalami flek. Kehamilanku kali ini, flek seringkali terjadi. Aku mulai gusar dan gelisah, dan akhirnya memutuskan untuk reservasi dengan dr. Lenni. Beliau mengatakan bahwa janinku baik-baik saja, dan berkembang sesuai ukuran, tepatnya berusia 6 minggu. Hari itu aku sangat bahagia, detak jantungnya telah terdeteksi melalui pemeriksaan USG. Aku kembali diresepkan obat penguat dengan tambahan cygest suppositoria 400 mg, obat penguat yang mengandung zat aktif progesteron, dan dimasukkan melalui vagina.

Aku manut dengan saran dokter untuk bedrest total dan berjalan seperlunya. 80% aktivitas yang kulakukan pasca check up berkisar tempat tidur, meja kerja, dan toilet. Flek mulai berkurang di beberapa hari pertama. Akan tetapi, di hari-hari selanjutnya flek itu datang kembali membuatku cemas, bahkan naik tingkat menjadi bercak darah saat buang air kecil. Aku kembali khawatir dan tentunya memiliki sifat panikan menambah lebih berat rasa cemasku saat itu. Aku kembali gercep mengecek kehamilanku.

Saat dicek melalui USG, janin beserta kantungnya tidak nampak dilayar USG tersebut. Sebenarnya aku mulai panik, tapi dokter selalu menekankan untuk lebih rileks. dr. Lenni mencoba mengecek melalui USG transvaginal. USG transvaginal ini dilakukan untuk memberikan gambaran rahim yang lebih jelas di awal kehamilan. Aku mulai berbaring telentang dengan posisi kaki terbuka sambil menekuk lutut. Kemudian dokter memasukkan tongkat USG yang sudah diberi kondom dan gel pelumas ke dalam vagina. Saat itu, tongkat USG menampilkan gambar bagian pinggul pada layar. Di layar, dokter menjelaskan bahwa janin sebesar blueberry yang nampak berada dalam kondisi baik dengan denyut jantung yang normal, meskipun pada akhirnya dokter menyampaikan dengan sangat halus bahwa kandunganku saat ini agak lemah dan menyarankanku untuk kembali full bedrest kurang lebih hingga dua pekan ke depan.

Aku mulai curiga dengan pernyataan dokter tersebut sehingga betul-betul mengikuti instruksinya untuk istirahat dari segala aktivitas. Sebisa mungkin aku menampik hal-hal buruk yang kadang melintas di pikiranku, segala hal positif kukembangkan di benakku. Mulai menonton film kartun, komedi, dan membaca buku motivasi adalah usahakan untuk memblokir segala pemikiran buruk mengenai kehamilanku ini.

Support system yang paling bisa diandalkan memang berasal dari keluarga. Suami selalu memberikan afirmasi positifnya, orang tua yang mengambil alih segala kewajibanku untuk mengurus Jinan yang sedang aktif-aktifnya. Aku benar-benar bisa istirahat dengan tenang di kamar. Hingga pada akhirnya, aku merasa menggigil, pinggulku rasanya keram, dan aku kembali mengalami perdarahan ringan. Aku mulai gemetar, padahal darah itu hanya setes dua tetes. Bagi ibu hamil, itu adalah sesuatu yang perlu diwaspadai. Saat aku kembali rebahan, perdarahan mulai berhenti hingga satu hari ke depan aku merasa aman.

Namun, di keesokan harinya. Perasaanku mulai berkecamuk, perasaan ini bukan soal nyeri fisik apapun,  tetapi ada sebuah rasa yang tak karuan dibenak dan dipikiranku sehingga aku berinisiatif  ke UGD rumah sakit. Sepanjang malam sebelumnya, tidurku sangat terganggu dengan perasaan yang tidak jelas itu. Ada sebuah kesedihan yang terus menerus ingin mendorong air mataku mengalir walaupun aku terus-menerus menampik perasaan itu dengan bergegas menutup mata. Aku tak tahu kesedihan apa yang sedang kuratapi malam itu.

Dokter jaga mulai mendeteksi gejala awalku dan menuntunku untuk rebahan di ruang UGD sambil menunggu dr. Lenni datang. Selang beberapa menit, dr. Lenni mulai mendeteksi kehamilanku melalui USG Transvaginal. Dan.... aku menemukan garis merah di layar USG, yang menandakan bahwa jantung janinku tak lagi berdetak. Yang ditegaskan dengan pernyataan dr. Lenni yang menyatakan bahwa janinku tidak berkembang. Dokter baik itu mulai memberiku kalimat-kalimat penyemangat. aku kembali menanyakan pernyataan itu dengan mata yang berkaca-baca. “Dok, coba periksa lagi”. Akhirnya dokter mulai menjelaskan maksud dari gambaran USG di layar dengan sangat detail. Aku tidak begitu memedulikan apa yang disampaikan dokter karena fokusku buyar seketika. Aku menunduk dan suster memberikanku tisu. Dokter dan suster seolah memberikanku ruang untuk bersedih lebih lama. Setelah merasa agak tenang dan dapat mengendalikan diri, dr.Lenni mulai menjelaskan dan mendiagnostik dilanjut dengan tindakan yang selanjutnya harus dilakukan, yaitu operasi kuretase. Operasi kuretase adalah pembedahan yang dilakukan setelah janin telah gugur di dalam kandungan. Banyak yang bilang kalau kuret itu menyakitkan sehingga menimbulkan rasa takut. Padahalnya sama sekali tidak. Prosedur yang dilakukan sama seperti operasi pada umumnya dengan suntikan obat bius melalui infus. Aku pun tidak merasakan paranoid sama sekali untuk menjalani itu, selain karena tindakan inilah yang terbaik untuk kesehatanku selanjutnya dibandingkan hanya meminum obat peluruh, mungkin karena aku familier berada di ruang operasi yang sama belakangan ini. Aku berharap inilah kali terakhir bertemu dengan operation theatre ini. Kecuali jika aku diizinkan kembali melahirkan dengan tangis kebahagiaan di ruangan ini. Gapapa ku ikhlas. hehe

Setelah sadar, semua rasanya seperti tak terjadi apa-apa. Sakit yang dirasa hanya sebatas hati yang merasakan kehilangan. Ada sesuatu yang terasa terenggut dari hatiku.

-----------

Apa sih yang ada dibenak kita saat sesuatu yang kita miliki itu hilang? Mungkin karena tercecer, terjatuh, rusak, atau istilah yang lebih naas-nya, raib di telan bumi. Tak dipungkiri, sedih, kecewa, gundah dan gulana menjangkiti hati kita. Perasaan kehilangan itu begitu rumit berkecamuk di alam pikiran kita, menggerayang ke manapun kaki melangkah. Tergugu sedih akan lenyapnya sesuatu yang berharga itu, tertikam sesak seharian, dan suuzon hari-hari gelap mulai menemani.

Sembari menunggu persiapan kamar perawatan oleh suster, aku merenung seraya menyeka air mata yang terus menerus mengalir. Aku kehilangan sesuatu yang tak pernah kulihat wujudnya secara nyata. Mungkin ini yang disebut ketulusan cinta, merasa kehilangan tanpa pernah bertemu sama sekali. Hanya memandanginya lewat layar USG di setiap kali check up.

Aku menemukan diriku remuk dan tidak berdaya. Tak ada sakit di fisikku sama sekali, yang ada hanya luka di hati yang teriris-iris bak sembilu. Aku kehilangan buah cintaku. Rasa bersalah mulai menghantui dan berulang-ulang kali flashback ke hari-hari kemarin. Apa yang khilaf kulakukan hingga  kejadian ini bisa terjadi? Padahal aku benar-benar konsisten mengikuti anjuran dokter. Makan teratur dan bergizi, istirahat total, obat yang tak pernah ter-skip sebiji pun, dan afirmasi positif yang terus menerus dilebatkan di kepalaku. Aku mulai menerka-nerka kesalahan yang kembali menambah beban kesedihanku. Pada akhirnya, orang-orang terdekatkulah dan juga dr. Lenni yang sangat berperan untuk memberikanku support dan semangat.

Aku mulai mengumpulkan kekuatanku kembali. Rasa simpati yang diperlihatkan oleh dr. Lenni begitu berharga untukku, bahwa ini sudah menjadi ketentuan Tuhan. Tuhan mengembalikan dia dari rahimmu karena itulah yang terbaik. Kita tidak tahu, bisa jadi jika ia terus menerus bertahan dengan kondisi yang lemah di dalam kantung rahim, janinnya akan berkembang dengan kurang baik pula, atau muncul komplikasi baru yang dapat memperparah keadaannya dan keadaanku. Tuhan adalah perencana terbaik, Dia Pengasih dan kembali akan menghadiahkanmu rezeki kehamilan di waktu yang paling tepat dan kondisi yang jauh lebih sehat.

Sebagai seorang ibu, rasa terluka tentu tak dapat ditampik. Menangis adalah sesuatu yang wajar untuk dilewati. Tentu dengan menangis, beban akan jauh lebih berkurang. Rasa denial menyerbu dalam benak di hari-hari pertama. Syukurnya, pelukan suami adalah tempat mengeluh yang paling adem. Dan akhirnya aku berada pada fase menerima. Aku kembali melanjutkan hidupku seperti sedia kala, ini dengan dibuktikan dengan teselesaikannya tulisan ini. Hehe.

Kehilangan janin di usia delapan minggu, yang kusebut janin ukuran blueberry-ku itu memberikan banyak pelajaran. Bahwa jika Allah telah berkehendak, tak ada yang bisa menghalanginya. Kematian itu pasti, kita hanya tinggal menunggu giliran kita saja. Si Janin Blueberry-ku juga memberikanku satu hal yang begitu berharga, bahwa aku harus tetap melanjutkan hidupku karena ada Jinan, mantan calon kakaknya yang harus kembali dalam pelukanku, untuk harus aku didik, aku rawat, dan asuh dengan sepenuh hatiku. Aku sangat berterima kasih padamu, si Janin Ukuran Blueberry-ku, kehadiranmu selama delapan minggu memberikan banyak hikmah dalam hidupku. Inilah cara Allah Swt meng-upgrade rasa sabar, ikhlas, dan syukur ku agar jauh lebih lapang dan kuat dengan ujian-ujian hidup selanjutnya. Sekali lagi, terima kasih, Janin Ukuran Bluberry-Ku. Kamu tetap hidup di hatiku. Kami ikhlas melepasmu karena kami yakin, ketika hati kita telah ikhlas dan banyak bersyukur, Allah Swt akan menggantikan nikmat itu berkali-kali lipat.

 

 

 

 

 

Minggu, 17 Januari 2021

MUHASABAH AWAL TAHUN


Belum selesai persoalan Covid-19 yang merebak ke berbagai belahan dunia dengan korban jiwannya yang bukan angka seiprit, kini dunia disedihkan kembali dengan berbagai bencana alam, utamanya di beberapa wilayah di Indonesia. Terhitung belum genap dua pekan kita berada di tahun yang baru, tetapi pelajaran bermuhasabah diri mulai menyapa. Juga soal kekhawatiran, tangis, dan tak dipungkiri juga soal kematian.

         Langit di Januari begitu tampak kelabu, mengantar kisah lalu di tahun 2018 yang sama gulananya. Gempa Lombok berikut dengan Tsunaminya, demikian pula di Palu, juga jatuhnya Pesawat Lion Air JT 610. Kini, berbagai bencana berderet di tahun itu harus kembali berulang di awal tahun 2021 ini. Di awali dengan peristiwa jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 yang memakan puluhan korban, Longsor di Sumedang, kemudian disusul dengan banjir hebat di Kalimatan dan gempa dahsyat mencapai 6,2 SR di Sulawesi Barat. Belum cukup sepekan, dunia dikabarkan kembali dengan bencana banjir rob di Manado. Kesedihan dipertegas dengan berpulangnya tokoh-tokoh besar pemuka agama yang turut menyempurnakan kepiluan kita di bulan kenduri ini.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢّ ﺇِﻧّﻲْ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ؛ ﻭَﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ، ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﺷَﺮِّﻣَﺎ ﺃَﺭْﺳَﻠْﺖَ ﺑِﻪِ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kehadirat-Mu kebaikan atas apa yang terjadi, dan kebaikan apa yang di dalamnya, dan kebaikan atas apa yang Engkau kirimkan dengan kejadian ini. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukan atas apa yang terjadi, dan keburukan atas apa yang terjadi di dalamnya, dan aku juga memohon perlindungan kepada-Mu atas apa-apa yang Engkau kirimkan.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa berderet ini. Kita bisa menjadikan segala bencana ini adalah ajang untuk bermuhasabah dan selalu mengingat kematian. Bahwasanya, bencana hadir bisa jadi bukan hanya karena kita sedang diuji. Akan tetapi, ini adalah dampak atas keserakahan kita dan begitu menganiaya alam tanpa sadar. Kematian memang adalah hal yang mutlak yang telah tertulis di Lauh Mahfuz. Kita tak pernah bisa memprediksi, bahkan melalu cenayang sekali pun soal kapan dan bagaimana kita menemui ajal. Apakah dengan tertimpanya bencana, dengan sakit, atau saat kita sedang berada dalam perjalanan?

Musibah yang terjadi adalah kesempatan di awal tahun untuk lebih banyak bermuhasabah diri. Merenung atas musibah yang terjadi, intropeksi atas kematian orang lain, mawas diri, meningkatkan iman dan perbaikan perilaku sebagai tuntunan dasar dari Allah untuk melakukan muhasabah diri.

Merasa seolah tak ada aral menghadapi kematian? Merasa bekal sudah mantap?

Yakin kusyu dalam sujud? Ini adalah beberapa pertanyaan yang kita urung untuk menguak di dalam hati kita sendiri bahkan ragu untuk menjawabnya. Padahal hati kecil kita mungkin menjawab bahwa iman kita belum menetap, sifat ujub masih mendarah daging.

            Kita perlu banyak belajar, sebab bencana di darat telah menjadi saksi, laut telah membuktikan, dan bahkan udara lagi-lagi menegaskan bahwa kita terlalu kecil dan angkuh untuk merasa hidup 1000 tahun lagi. Semoga kita senantiasa bermuhasabah untuk dan bertaubat, sebab kematian bagi setiap manusia adalah seuatu kepastian. Semoga kita bebekal cukup untuk kehidupan kita di kampung akhirat serta meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Amin-amin Ya Rabbalamin

 

 

Minggu, 16 Agustus 2020

MERDEKA BERBAHASA


Pemuda Indonesia, apakah akan selalu mengingat sumpahnya? “Kami Putera-puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Begitu ‘kan sumpah pemuda butir ketiga?


     

    Kaum Milenial, generasi Z hingga generasi Alpha saat ini dihadapkan dengan gaya hidup xenosentrisme, yaitu pandangan yang lebih menyukai hal-hal berbau asing. Paham ini berasal dari sikap individu yang kurang percaya diri dan merasa inferior. Bukan hanya tentang cara seseorang menilai rendah budayanya sendiri dan menilai budaya asing jauh lebih tinggi. Penggunaan bahasa pun sedemikian adanya.

Kedudukan bahasa Indonesia mulai bergeser seiring berkembangnya zaman. Kita pura-pura lupa bahwa Sumpah pemuda butir ketiga pernah kita dengungkan dan kita ikrarkan. “Menjunjung Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia”. Apa kabar kalimat ikrar yang dulunya didengung-dengungkan oleh tetuah dan para pejuang terdahulu? Apakah ikut tergerus oleh globalisasi yang kiblatnya semakin hari semakin membarat?

Bahasa dianggap sebagai jati diri bangsa, meskipun pada pengaplikasiannya bahasa Indonesia lebih terkesan dianaktirikan di‘rumahnya’ sendiri. Bahasa asing lebih dianggap berkualitas dan lebih bergengsi. “Untuk apa belajar bahasa Indonesia? Bukankah setiap hari kita berkomunikasi pakai bahasa Indonesia?”  Begitulah kira-kira pernyataan yang kerapkali menggema di telinga bahkan hingga ke hatiku ketika saya mencoba mengapersepsi dan memancing peserta didik  sebelum masuk ke inti pembelajaran.

              Secara teori, pemahaman tentang Bahasa Indonesia bisa diacungkan jempol. Tapi, sudah tepatkah penggunaan bahasa kita pada konteks tertentu? Bagaimana penulisan kata atau frasa yang kita tuliskan, apakah sudah merujuk pada kaidah kebahasaan atau Kamus Besar Bahasa Indonesia? Sudah sesuaikah pelafalan yang seharusnya dilafalkan dalam bahasa Indonesia atau jangan-jangan kita melafalkan sebuah kata dengan gaya keinggris-ingrisan?

              Dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, tidak melulu diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan tersusun secara terstruktur dengan memperhatikan gramatikal dan segala bentuk pragmatiknya. Tidak melulu. Kita mungkin sering menjumpai istilah “Gunakanlah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar” ini di buku paket bahasa Indonesia, di spanduk jalan raya, atau iklan layanan sosial yang ada di televisi. Pahamkah kita makna dari kalimat persuasif itu?

Menggunakan ahasa Indonesia yang baik berarti menggunakan bahasa sesuai dengan situasi. Sebagai alat komunikasi, bahasa harus efektif menyampaikan maksud kepada lawan bicara sehingga pemilihan laras bahasa pun harus sesuai dengan situasi tersebut. Ragam bahasa yang kita gunakan saat berbicara dengan teman atau sahabat jelas berbeda ketika kita dihadapkan pada forum komunikasi resmi seperti seminar atau rapat kerja. Dan akan berbeda pula jika kita berada pada situasi nonformal atau santai dengan keluarga di meja makan.

Sedangkan menggunakan bahasa Indonesia yang benar bermakna bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk berbahasa baku tertulis maupun berbahasa baku lisan.

              “Ma, bisakah saya menambah ayam goreng itu? saya sangat kelaparan”. Kalimat ini seringkali kita jumpai ketika kita sedang makan malam dengan keluarga. Ditinjau dari penggunaan bahasanya, kalimat ini sudah benar, tetapi belum baik karena konteks penggunaan bahasanya pun tidak sesuai. Kalimat tersebut menggunakan ragam bahasa resmi (formal) yang pada hakikatnya digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato atau rapat resmi. Padahal ragam bahasa yang sesuai dengan konteks tersebut adalah ragam bahasa santai, yaitu bahasa digunakan dalam suasana tidak resmi, seperti berbincang santai dengan keluarga di rumah ataupu n dengan teman.

              Sama halnya saat kita sedang melakukan musyawarah kerja ataupun rapat kerja di kantor, seseorang ingin menyampaikan pertanyaan pada sesi tanya jawab, “Bisa nggak sih saya bertanya sekali lagi?”. Kalimat tersebut merupakan kalimat ragam santai tetapi tidak sesuai dengan konteksnya. Meskipun di dalam forum tersebut adalah teman atau sahabat karib, situasi merupakan situasi formal sehingga pemakaian bahasa pun harus dikemas dengan menggunakan ragam bahasa formal.

              Beda halnya dengan bahasa Indonesia yang benar. Kita ambil contoh kecil saja, tetapi berdampak pada kefatalan yang besar. Biasanya kita menemui sebuah kalimat di depan kasir saat hendak membayar belanjaan kita. Di sana terpajang besar-besar, sebuah tulisan “Harap Antri”, atau “Silahkan duduk”. Sepintas, tidak ada yang salah dengan frasa tersebut. Akan tetapi, penulisan kedua frasa tersebut tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Penulisan kata antri seharusnya antre. Sedangkan silahkan, seharusnya silakan. Kondisi tersebut terus menerus berulang dan jarang dikoreksi. Hal-hal yang keliru tersebut dianggap lumrah sehingga sesuatu yang keliru itu dibenarkan.

              Beberapa contoh kecil tersebut, menunjukkan bahwa mendalami bahasa Indonesia adalah PR kita setiap pemuda Indonesia. Mempelajari bahasa Indonesia merupakan langkah dasar untuk terus menerus menjunjung bahasa persatuan. Belum lagi dengan beranaknya berbagai macam bahasa prokem, yang dengan mata positif kita anggap sebagai kreativitas anak Indonesia dalam segi berbahasa. Bahasa prokem datang menjadi variasi dan menambah khasanah bahasa Indonesia dengan ciri khasnya.

Merdeka berbahasa bisa kita galakkan dengan memahami berbagai macam ragam dan laras bahasa Indonesia, mulai dari ragam bahasa beku hingga ragam bahasa akrab bahkan prokem. Semakin kita memahami pemakaian ragam bahasa Indonesia, semakin kita paham bahwa Bahasa Indonesia bisa menginternasional lebih jauh lagi. Mungkin saat ini, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling populer di negara Australia dan lebih dari 500 sekolah mengajarkan bahasa Indonesia. Tapi dua tahun ke depan, bisa jadi bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa populer di berbagai benua.

Bahasa Indonesia tidak akan menjadi bahasa yang dikenal dunia, apabila kita sebagai Pemuda Indonesia yang telah bersumpah dan berikrar ikut andil dalam memerdekakan bahasa kita sendiri. Bukan berarti bahwa kita menolak keras adanya bahasa asing yang masuk. Bahasa asing atau bahasa internasional, seharusnya kita bijaki sebagai pelengkap keahlian dan nilai tambah dalam mengembangkan diri. Menjunjung bahasa Indonesia bukan alasan untuk menutup diri dari perkembangan dunia di luar sana. Local genius perlu kita terapkan sebagai bentuk penerimaan, memilah, dan mempelajari bahasa asing yang dianggap baik untuk meningkatkan potensi diri kita tanpa melengserkan kedudukan bahasa Indonesia di hati kita.

              Merdeka berbahasa, merdeka dalam menggunakan bahasa Indonesia sesuai konteks dan situasinya. Merdeka berbahasa adalah upaya dalam menjunjung bahasa Indonesia, meningkatkan jati diri bangsa. Memerdekakan bahasa Indonesia adalah bentuk kontribusi dalam memerdekakan Negara Republik Indonesia.

“Utamakan Bahasa Indonesia. Kuasai Bahasa Asing. Lestarikan Bahasa Daerah”.

 

 

Senin, 10 Agustus 2020

RESUME BUKU: SEGALA-GALANYA AMBYAR (SEBUAH BUKU TENTANG HARAPAN)

Assalamualaikum. Para Sobat Ambyar. EHHH... mendengar istilah Sobat Ambyar , mungkin di pikiran teman-teman langsung terbersit sosok legendaris, sang maestro Didi Kempot. Yap, istilah Sobat Ambyar merupakan nama komunitas penggemar penyanyi Almarhum Didi Kempot.

Menurut KBBI, Ambyar adalah bercerai-berai, terpisah-pisah, tidak terkonsentrasi lagi. Kata ini biasa digunakan sebagai penyempurna sebuah kalimat yang ingin mengekspresikan sebuah kekecewaan yang mendalam, intinya  sedih banget sampai bingung lagi harus berkata apa.

Kata ‘ambyar’ memiliki kedekatan makna dengan kata galau yang sempat hits pada masanya. Nah lagu-lagu Didi kempot dianggap bisa mengobati kekecewaan dan sakit hati itu. Didi bisa membantu mengobati sakit hati dari orang-orang yang perasaannya ambyar.

Loh, kok kita malah Ambyar gini?   

 

          

         

Yo wess, Kali ini saya tidak bermaksud membahas atau mengulik lebih dalam tentang komunitas Sobat Ambyar. Tapi, akan sedikit mengulas sebuah buku yang hampir mirip dengan nama komunitas Alhamrhum Didi Kempot itu.  Yap. Mungkin sudah ada yang bisa menebak, buku berjudul apakah itu???

          Yippi. Buku yang akan saya ulas adalah buku karya Mark Manson, penulis buku paling laris di internasional. Gebrakan buku sebelumnya yang laris itu berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Buku berikutnya ini yang akan saya kuliti dan kita bahas sama-sama ya, teman-teman, yaitu berjudul SEGALA-GALANYA AMBYAR. Sebuah Buku Tentang Harapan. Buku terbitan Grasindo ini merupakan buku saduran, terjemahan berjudul  Everything is F~cked.

Di sampul depan, terdapat sebuah kalimat, “Sebuah buku tentang harapan”,  kita sebut saja itu adalah slogan buku ini--yang terbit di awal 2019, lalu dicetak dan diterjemahkan pertama kali di  Indonesia pada Februari 2020. Ketebalan buku ini 349 halaman, sudah termasuk sampul. Sampul depan berwarna hijau tosca, persis warna kesukaanku. Mungkin ini juga bagian dari alasan mengapa saya tertarik membacanya. Hehe. Penulisnya adalah Mark Marson, penulis buku paling laris di internasional.gebrakan buku sebelumnya yang laris itu berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat dengan penjualan bernilai  lebih dari lima juta kopi (ini baru di Amerika Serikat saja, loh).

Tulisan dalam buku ini lebih merujuk pada kumpulan pemikiran tentang sebuah harapan dengan banyak kutipan dari berbagai jurnal dan esai yang mendukung pernyataan tersebut. Buku ini berisi dua bagian, yang pertama adalah tentang harapan dan bagian kedua tentang segala-galanya ambyar. Baiklah, mari kita kupas dikit setiap bagian dalam buku ini. Cekidot!!!

Bagian I. Harapan

          Bagian ini terdiri atas lima BAB, yaitu (1) Kebenaran yang menggelisahkan; (2) Kendali-Diri adalah sebuah ilusi; (3) Hukum Newton tentang Emosi; (4) Cara Mewujudkan Mimpi-Mimpi Anda; (5) Harapan Itu Ambyar.

          Secara garis besar, bagian HARAPAN ini memaparkan tentang asumsi-asumsi manusia agar  membuat hidup layak dijalani. Mark memulainya dengan menjabarkan pentingnya punya nilai-nilai dalam hidup khususnya nilai kebahagiaan. Bahkan, ia menjabarkan bahwa lawan dari kebahagiaan bukalanlah sebuah amarah atau kesedihan. Jika kita marah atau sedih, berarti kita masih peduli akan sesuatu. Maksudnya, ada suatu nilai di sana, bahkan kita memiliki harapan di balik kesedihan itu. Kalau bisa aku berpendapat, aku menyebutnya dengan sebuah “KEBANGKITAN” kali ya? Kebangkitan dari keterpurukan. Kesedihan bukan lawan dari kebahagiaan. Lawan dari kebahagiaan adalah keyakinan bahwa segala-galanya ambyar. Ibaratnya kita sudah tidak punya harapan lagi untuk melakukan sesuatu, sebuah kepasrahan, dan sebuah ketidakberdayaan.

          Kehilangan harapan dalam hidup merupakan nihilisme yang dingin dan suram, perasaan saat segala sesuatu tak ada lagi gunanya. Ketiadaan harapan adalah akar kecemasan, penyakit jiwa dan depresi. Sumber segala penderitaan dan biang kerok segala segala kecanduan.

          Sebuah harapan memberikan kesadaran akan tujuan dalam hidup kita. Bukan sekadar menyiratkan ada “tujuan” dalam hidup kita, ada “sesuatu” yang lebih baik di masa depan, tetapi juga bahwa sesungguhnya kita bisa mengejar dan meraihnya.

          Kehilangan harapan sama seperti kehilangan nilai-nilai diri kita sendiri. Bagaiamana cara agar kita dapat menjadikan diri kita sebuah harapan di setiap harinya? Pertama, dengan memeriksa ulang pengalaman masa lalu kita, kemudian merancang ulang hidup kita dengan memperkaya harapan dan tindakan-tindakan. Cara lain yang lebih ampuh ialah, dengan menuliskan cerita-cerita untuk diri kita di masa depan, untuk memproyeksi masa depan dengan bayangan yang kita hidupkan sendiri kemudian menjadikannya nyata.

Harapan itu bisa tumbuh jika kita membangun hubungan apa saja selalu meletakkan tujuan sebagai nilai tertinggi bukan sarana. Harapan hancur karena kita selalu memperlakukan manusia lain sebagai sarana bukan tujuan. Kejujuran itu sepenuhnya baik karena kejujuran adalah satu-satunya bentuk komunikasi yang tidak memperlakukan orang lain sebagai sarana

Bagian II. Segala-galanya Ambyar

Pada bagian ini, terdiri atas empat bab, yaitu(1) Formula kemanusiaan; (2) rasa sakit adalah konstanta universal; (3) Ekonomi perasaan; dan (4) agama final.

          Secara garis besar, bagian ini menjabarkan tentang formula bagaimana seseorang bisa berkembang dalam hidup, cara menjadi “dewasa”. Mark menuliskan bahwa kedewasaan adalah kesadaran bahwa terkadang sbeuah prinsip yang paling inti adalah tentang baik dan buruk yang tidak bisa ditawar-tawar, yang bahkan jika itu menyaktikan Anda hari ini, bahkan jika itu melukai orang lain, bersikap jujur tetaplah hal yang paling benar. Sebuah kedewasaan adalah pengantar menuju perkembangan. Semakin dewasa kita, peluang ke-ambyar-an kita semakin besar. Mengapa? Karena banyak kerikil-kerikil yang akan menjatuhkan mental kita untuk naik menuju perkembangan, melalui tapal-tapal harapan  yang kita punya.  Untuk melepaskan diri dari itu, kita harus bertindak tanpa pamrih, harus mencintai tanpa mengharapkan balasan. Jika tidak begitu, itu bukanlah cinta sejati.

          Realitanya saat ini adalah, terjadi krisis kedewasaaan, khususnya di zaman modern saat ini. Baik dalam dunia yang masih berkembang maupun yang sudah kaya, kita tidak hidup dalam sebuah krisis kesejahteraan atau material tapi sebuah kriris karakter, sebuah kriris keluhuran, sebuah krisis sarana, dan krisis HARAPAN. Namun, memiliki banyak harapan juga bukan hal yang menjadi prestasi. Itulah mungkin maksud Mark menjelaskan bahwa sebelum kita menuliskan harapan-harapan dan mewujudkannya, kita perlu meluruskan dulu apa yang sebenarnya kita butuhkan dan benar-benar menjadi tujuan hidup kita. Sehingga harapan-harapan itu bisa kita filter. Bisa jadi, harapan itu mungkin hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri untuk mencapai sebuah tujuan atau ambisi, dan itu yang akan membuat kita menjadi Segala-Galanya Ambyar.

...

          Jadi, inti yang bisa dipetik dari dua bagian itu adalah: bagian pertama memberikan kita motivasi agar selalu meneguhkan harapan dalam hidup kita. Harapan adalah napas untuk keberlangsungan hidup kita menjadipribadi yang lebih baik ke depannya. Sedangkan bagian kedua memberikan kita wejangan bahwa meskipun dalam hidup, harapan harus tetap dihidupkan. Akan tetapi, bukan berarti kita melulu menumpuk harapan sehingga menjadi bumerang bagi hidup kita sendiri. Memiliki banyak harapan yang asal-asalan malah akan berujung pada keambyaran, apalagi jika harapan-harapan itu tak terwujudkan.

          Bagi saya, buku ini  agak berat untuk dipahami. Salah satu mengapa saya mengatakan ini berat, karena buku ini adalah buku terjemahan sehingga beberapa susunan dan diksi kalimat sedikit membuat saya harus berpikir dua tiga kali atau bahkan perlu membaca ulang dari halam sebelumnya. Uraiannya bersifat filosofis tetapi mencoba menjelaskan dengan ilustrasi sejarah apa yang hilang dalam hidup masyarakat modern: yaitu harapan. Tulisan Mark di sini kental dengan  kritikan pada gaya hidup hari kita hari ini,  yaitu tentang gaya hidup, obsesi, kritik pandangan hidup yang menginginkan kesenangan, selalu menyukai hal-hal sepele, bahkan sampai pada kritikan atas budaya kapitalisme yang remeh tapi menusuk.

Saya membaca buku ini, rasa seperti melihat kita hidup dalam keinginan untuk selalu mendapat kenikmatan, selalu mencandu hal-hal remeh sehingga kita mudah rapuh dan karena itu kita selalu mengagungkan kebebasan. Selain itu, saya banyak mendapat makna dari buku ini sekaligus menjadi wejangan untuk selalu menyangsikan kebiasaan yang lazim sekarang ini. Seperti keinginan kita untuk mendapatkan kenikmatan hidup yang instan dalam hal apa saja. Secara garis besar, buku ini merupakan upaya menahan hawa nafsu kita untuk menanam harapan yang terlalu besar yang tidak sinkron dengan kondisi atau kebutuhan hidup kita.